Menu

Mode Gelap
Jalan Sehat, Kuis, hingga Doorprize Meriahkan Cibeureum Wetan Walkers Ubah Konflik Jadi Peluang Belajar: Dosen Universitas Widyatama Latih Guru PAUD Cimahi Selatan Kelola Konflik di Kelas Jasa Raharja dan Subdenpom Karawang Perkuat Sinergi Penanganan Laka Lantas yang Melibatkan Anggota TNI Tingkatkan Kesiapsiagaan, Jasa Raharja Cabang Cirebon Gelar Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) Di Kec Palimanan Kab Cirebon Upaya Keselamatan Lalu Lintas, PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Cirebon Gelar Pengajar Peduli Keselamatan Lalu Lintas (PPKL) Di SMAN 1 Arjawinangun Kab Cirebon

Berita Daerah · 20 Jun 2024 11:23 WIB

Koalisi PDI-P, PKS dan PPP Menjadi Penantang Serius Bagi Koalisi Indonesia Maju Pada Pilkada Mendatang


					Koalisi PDI-P, PKS dan PPP Menjadi Penantang Serius Bagi Koalisi Indonesia Maju Pada Pilkada Mendatang Perbesar

BANDUNG – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jawa Barat akan membangun kekuatan dalam menghadapi Pilkada Jawa Barat 2024 dengan menjalin komunikasi intensif bersama PPP dan PKS.

Pasalnya, selain PDIP, PKS dan PPP, parpol lain agaknya sudah merapat dan bergabung dengan koalisi pendukung pemerintah yakni Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Hal itu disampaikan Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (19/6).

“Dalam Pemilu saat ini kita pun harus realistis,” kata Ono.

“Misalnya kenapa sih kita komunikasi dengan PKS yang sebelumnya belum pernah terjadi kerja sama PDIP dan PKS? Makanya dengan kondisi KIM yang mungkin misalnya bisa terbentuk di Jabar ya mau tidak mau hanya menyisakan PDIP, PKS, PPP,” sambungnya.

Ono menambahkan bahwa situasi politik saat ini membutuhkan fleksibilitas dan realistis dalam menjalin koalisi demi meraih kemenangan di Pilkada Jabar pada 27 November mendatang.

“Yang kita komunikasi terus ya PPP dan PKS,” tandas Ono.

Hal senada pun di ungkapkan Ketua DPW PKS Jawa Barat, Haru Suandharu.

Dalam kontestasi politik kekinian Dijelaskan Haru yang penting diperhatikan dalam membangun koalisi bukan perbedaan ideologi. Akan tetapi, kata dia, yang harus diwaspadai adalah pragmatisme, baik terkait popularisme maupun logistik.

“Yang kita hadapi bukan (ideologi) ini kiri ini kanan, tapi pragmatisme popularisme dan pragmatisme logistik. Kalau pragmatis kan, siapa paling populer, siapa yang logistiknya paling besar. Semua merapat ke situ,” ujar Haru.

Ia pun tidak menutup peluang koalisi Merah Putih Hijau bisa terbentuk dalam Pilgub Jabar.

Artikel ini telah dibaca 54 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Jasa Raharja Karawang Dorong Kepatuhan Pembayaran Pajak Kendaraan melalui Program SIGAP Instansi

9 September 2026 - 07:01 WIB

Jasa Raharja Kanwil Jabar Perkuat Sinergi Tertib Pajak Kendaraan Bermotor di Kecamatan Sumedang Selatan

8 September 2026 - 07:20 WIB

Jasa Raharja Garut Laksanakan Gaspoll di Kecamatan Leles, Perkuat Upaya Optimalisasi Kepatuhan Masyarakat

7 September 2026 - 07:15 WIB

Jasa Raharja Pangandaran Perkuat Koordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk Optimalisasi Penjaminan Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Puskesmas

7 September 2026 - 07:11 WIB

Operasi Gabungan Tim Pembina Samsat Kabupaten Bogor Kedepankan Edukasi yang Humanis

7 September 2026 - 07:02 WIB

Hadir dan Melayani, Jasa Raharja Tegaskan Komitmen di Hari Pelanggan Nasional

4 September 2026 - 09:47 WIB

Trending di Berita Daerah