CIMAHI – Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Pascasarjana Universitas Widyatama menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa Pelatihan Manajemen Konflik bagi Guru PAUD di Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, pada Kamis (13/8/2026).
Pelatihan yang mengusung tema “Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Harmonis dan Ramah Anak” ini diikuti 20 guru dan tenaga pendidik PAUD dari sejumlah satuan di wilayah Cimahi Selatan, mulai dari Kelompok Bermain (KB), Pos PAUD (PP), hingga Bina Iman (Bambim).
Kegiatan digelar melalui kerja sama dengan Pengurus Cabang HIMPAUDI Kecamatan Cimahi Selatan dan berlangsung sejak siang hingga sore hari.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Biro Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Widyatama Tahun 2026.
Melalui pendanaan tersebut, tim dosen mengangkat isu manajemen konflik sebagai keterampilan yang selama ini jarang menjadi fokus pelatihan bagi guru PAUD, padahal sangat dibutuhkan dalam keseharian di kelas.
Ketua Tim PkM, Dr. Anton Budi Santoso, S.A.B., M.M., menjelaskan bahwa pelatihan ini berangkat dari kenyataan bahwa konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian di lingkungan PAUD, baik konflik antaranak, guru dengan orang tua, maupun antarguru.
Menurutnya, konflik tidak selalu berdampak negatif dan justru dapat menjadi sarana pembelajaran apabila dikelola dengan tepat.
“Guru yang profesional bukanlah guru yang tidak pernah menghadapi konflik, melainkan guru yang mampu mengubah konflik menjadi kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan memperkuat hubungan dengan anak, rekan kerja, serta orang tua,” ujar Anton di hadapan peserta dalam siaran persnya.
Lurah Cibeureum, Dharma Jaya, S.E., M.A.P., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Ia menekankan bahwa guru PAUD memiliki peran strategis dalam membentuk generasi penerus bangsa.
“Masa depan negara salah satunya ada di tangan guru PAUD,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini dapat berkontribusi dalam menjawab beragam persoalan sosial yang kompleks di masyarakat.
Sementara itu, perwakilan HIMPAUDI Cimahi Selatan, Khumasah Khotimah, S.Pd., mengungkapkan bahwa pelatihan semacam ini sangat relevan dengan kondisi guru PAUD di lapangan. Ia menyebut sebagian besar guru PAUD berlatar belakang pendidikan SMA dan tengah menempuh studi lanjut ke jenjang S1, sehingga penguatan kompetensi non-teknis seperti manajemen konflik menjadi kebutuhan penting.
Menurut Khumasah, konflik di lingkungan PAUD dapat terjadi antara sesama rekan guru, dengan kepala sekolah, dengan anak didik, bahkan dengan orang tua. Ia menegaskan tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi penengah, misalnya ketika terjadi konflik antarpengantar atau antarorang tua di sekolah.
“Setiap konflik harus dipandang sebagai peluang untuk tumbuh. Guru harus menjalin sinergi demi anak-anak Indonesia, generasi emas kita,” katanya. Ia pun berharap materi pelatihan ini tidak sekadar disimpan, melainkan benar-benar diimplementasikan di satuan PAUD masing-masing.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali keterampilan dasar manajemen konflik yang dirancang bertahap. Materi mencakup pengenalan konsep dan identifikasi sumber konflik di PAUD, lima gaya penyelesaian konflik menurut model Thomas-Kilmann, komunikasi efektif dan Nonviolent Communication (NVC), teknik mediasi sederhana, hingga penguatan budaya positif sekolah. Peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga dilibatkan langsung melalui ceramah interaktif, diskusi, studi kasus, simulasi, dan pengisian worksheet.
Bertindak sebagai narasumber, Dr. H. Deden Sutisna M. N., S.E., M.Si., CHRA., CSBA., menekankan pentingnya komunikasi empatik dalam menyelesaikan konflik di lingkungan pendidikan anak usia dini. Ia mengajak para guru membiasakan diri menyampaikan teguran tanpa menghakimi, misalnya dengan menggantikan kalimat yang menyalahkan menjadi kalimat yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan anak.
“Konflik bukan untuk dihindari, tetapi untuk dikelola menjadi kesempatan tumbuh bersama,” kata Deden. Dalam sesi simulasi, peserta tampak antusias mempraktikkan lima tahapan mediasi, mulai dari menenangkan situasi, mendengarkan kedua pihak, mengidentifikasi masalah, mencari solusi bersama, hingga membuat kesepakatan sederhana yang mudah dipahami anak.
Pada akhir kegiatan, peserta diarahkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk penerapan hasil pelatihan di satuan PAUD masing-masing. Beberapa rencana aksi yang dirumuskan antara lain menyusun standar operasional prosedur (SOP) penanganan konflik, membiasakan komunikasi positif, mengadakan kegiatan parenting bersama orang tua, hingga membangun budaya kolaboratif antarsesama guru di sekolah.
Selain dihadiri Lurah Cibeureum dan perwakilan HIMPAUDI, kegiatan ini juga dihadiri Penilik PAUD Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Sumarja, S.Pd. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut dinilai menunjukkan dukungan lintas pihak terhadap upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan anak usia dini di Kota Cimahi.
Selain Dr. Anton Budi Santoso dan Dr. H. Deden Sutisna, tim PkM dari Kelompok Keahlian Human Resource Strategy and Organizational Behaviour Universitas Widyatama juga beranggotakan Prof. Dr. H. Maman Suratman, M.Si.; Dr. Neuneung Ratna Hayati, S.E., M.M.; Dr. Nia Riana, S.E., M.M.; Hj. Sari Dewi Oktari, S.E., M.M.; Dr. Nabilah Ramadhan, S.M.B., M.M.; Mariah Rabiatul Qibtiyah, S.M.B., M.M.; Titto Rohendra, S.E., M.Si.; dan Vina Silviani Marinda, S.E., M.M., CPHCM. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa, yaitu Zahra Rosmawati Agustin dan Zaskia Rizky Amalia.
Melalui pelatihan yang didanai Biro P2M Universitas Widyatama Tahun 2026 ini, tim berharap para guru PAUD di Cimahi Selatan mampu mengubah setiap konflik di kelas menjadi kesempatan untuk melatih anak mengenali perasaan, berkomunikasi, dan bernegosiasi sejak dini, sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan harmonis.




























