BANDUNG — Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mendorong Universitas Pendidikan Indonesia semakin aktif memberikan kontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan pendidikan nasional.
Hal itu disampaikan Cucun saat memberikan orasi ilmiah dalam rangkaian Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum UPI 2026, Selasa (18/8/2026).
Di hadapan puluhan ribu mahasiswa baru, Cucun menekankan pentingnya peran perguruan tinggi, khususnya UPI, dalam membentuk sumber daya manusia sekaligus memberikan masukan terhadap kebijakan pendidikan.
Cucun mengaku bahagia dapat berbicara di hadapan mahasiswa baru UPI yang menurutnya merupakan putra-putri terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
“Saya berbahagia sekali hari ini bisa berbicara di hadapan puluhan ribu mahasiswa baru, anak-anak terbaik dari seluruh Indonesia yang punya tujuan luar biasa dan mulia untuk menjadi guru dan tenaga pendidik,” kata Cucun.
Menurut Cucun, UPI memiliki posisi strategis dalam pembangunan pendidikan nasional. Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan seluruh sivitas akademika tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi turut berkontribusi dalam penyelesaian persoalan pendidikan di tingkat nasional.
Ia mengatakan, DPR RI saat ini tengah menyusun regulasi terkait sistem pendidikan nasional. Dalam proses tersebut, masukan dari UPI dinilai penting karena perguruan tinggi tersebut memiliki pengalaman dan pengetahuan langsung mengenai berbagai persoalan pendidikan.
“Yang paham tentang pendidikan ini adalah UPI. Jadi kita perlu meningkatkan public participation, sekaligus bertemu dengan para pelaku pendidikan untuk mendapatkan masukan apa yang harus kami masukkan dalam undang-undang yang sedang berjalan,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Cucun adalah ketimpangan distribusi guru antardaerah. Ia mencontohkan masih terdapat daerah yang kelebihan guru untuk mata pelajaran tertentu, sementara daerah lainnya justru mengalami kekurangan.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan perlunya pembenahan tata kelola kebutuhan dan rekrutmen guru agar lebih sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah.
“Jangan rekrut-rekrut tetapi tidak sesuai dengan formasi yang diinginkan. Rekrutmen harus match dengan kebutuhan daerah,” tegasnya.
Cucun juga menilai pembenahan sektor pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan anggaran negara. Menurutnya, mandat anggaran pendidikan telah jelas, sehingga persoalan yang perlu diperkuat adalah tata kelola dan ketepatan sasaran kebijakan.
Rektor UPI: Persoalan Pendidikan Sangat Kompleks
Rektor UPI Didi Sukyadi mengakui persoalan pendidikan di Indonesia saat ini sangat kompleks. Salah satu persoalan yang masih membutuhkan perhatian adalah kekurangan guru di sejumlah daerah.
Namun, menurut Didi, UPI tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut secara keseluruhan. Peran UPI saat ini lebih banyak dilakukan melalui dukungan terhadap mahasiswa yang menjalani praktik mengajar di berbagai sekolah sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah.
“Masalah pendidikan di Indonesia saat ini sangat-sangat kompleks. Kalau UPI, terutama terkait dengan kekurangan guru, tidak bisa membantu secara keseluruhan,” ujar Didi.
Ia menjelaskan, UPI dapat berkontribusi melalui program praktik mengajar mahasiswa di sekolah-sekolah yang membutuhkan. Skema tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan perguruan tinggi terhadap kebutuhan pendidikan di lapangan.
Didi menilai persoalan kekurangan guru dan berbagai problem pendidikan lainnya membutuhkan kebijakan pada level nasional. Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya mengandalkan perguruan tinggi.
“Masalah yang saya sebut itu tentu hanya bisa diselesaikan secara politik,” katanya.
Didi pun mengapresiasi perhatian Cucun terhadap persoalan pendidikan nasional. Ia menilai Cucun memiliki pemahaman yang baik mengenai berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi Indonesia.
“Alhamdulillah, Pak Haji Cucun mempunyai pemahaman yang luar biasa, memahami permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia. Karena itu, Bapak kami terus berdoa untuk memperjuangkan masing-masing kebijakan secara nasional,” ujar Didi.
Sementara itu, Cucun menegaskan mahasiswa tidak boleh menjadikan ijazah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurutnya, pendidikan pada akhirnya harus melahirkan manusia yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Bukan mencetak menjadi orang hebat, tetapi menjadi orang yang bermanfaat. Jadi ukurannya bukan ijazah, tetapi mereka harus menjadi orang-orang yang bermanfaat untuk lingkungannya,” pungkas Cucun.
































