BANDUNG – Batik gedok di Tuban, Jawa Timur, menghadapi persoalan regenerasi perajin dan semakin langkanya bahan baku.
Sementara itu, perkembangan kecerdasan buatan (AI) menuntut sistem digital yang bukan sekadar menyodorkan pilihan, tetapi juga mampu memahami preferensi penggunanya.
Dua persoalan tersebut menjadi sorotan dalam pengukuhan dua guru besar Telkom University melalui sidang terbuka senat di Auditorium Gedung Damar, Kamis, 29 Oktober 2026.
Rektor Telkom University menyebut pengukuhan dua profesor tersebut sebagai hasil dari kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Capaian itu sekaligus menjadi kebanggaan bagi seluruh sivitas akademika kampus.
“Capaian ini merupakan buah dari kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Sekaligus kebanggaan bagi seluruh sivitas akademika Telkom University,” ujar Rektor Telkom University dalam sambutannya.
Telkom University kini memiliki 21 guru besar dari berbagai bidang keilmuan. Dua profesor yang dikukuhkan adalah Fajar Ciptandi, guru besar bidang Tradition-Based Product, dan Z.K. Abdurrahman Baizal, yang menekuni pengembangan sistem rekomendasi.
Penelitian keduanya bergerak di bidang berbeda, tetapi sama-sama berupaya menjawab persoalan nyata melalui pengembangan pengetahuan dan inovasi.
Batik Gedok dan Ancaman Putusnya Tradisi
Fajar Ciptandi mengembangkan penelitian berbasis masyarakat sejak 2018. Salah satu lokasi risetnya berada di Karang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dengan fokus pada keberlanjutan tradisi batik gedok.
Tradisi ini tidak berhenti pada proses membatik.
Ekosistem produksinya mencakup penanaman kapas, pemintalan benang, penenunan kain, hingga pemberian motif melalui proses pembatikan.
Rangkaian tersebut menyimpan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi.
Namun, keberlangsungannya menghadapi tantangan ketika tanaman kapas dan indigo semakin jarang ditemukan, sementara regenerasi perajin mulai melemah.
Persoalannya bukan sekadar mempertahankan motif tradisional. Ketika bahan baku semakin sulit diperoleh dan jumlah penerus menyusut, pengetahuan yang menopang keseluruhan proses produksi juga berisiko terputus.
Fajar memilih pendekatan inovasi yang melibatkan masyarakat sejak awal. Warga tidak ditempatkan hanya sebagai objek penelitian atau penerima hasil pengembangan produk, melainkan sebagai pihak yang ikut menentukan arah masa depan tradisinya.
“Jadi inovasi ini lahir justru dilakukan bersama dengan mereka, jadi tidak top-down,” kata Fajar.
Pendekatan tersebut menempatkan pengetahuan lokal sebagai bagian penting dari inovasi. Pengembangan produk, menurut pendekatan yang ditempuhnya, perlu berjalan bersama masyarakat agar tradisi tetap memiliki tempat dalam kehidupan mereka.
Fajar merupakan guru besar pertama di Fakultas Industri Kreatif Telkom University. Berdasarkan paparan rektor dalam sidang pengukuhan, ia telah memublikasikan 87 artikel di jurnal nasional dan internasional bereputasi, dengan indeks-H Scopus 5.
Ia juga memiliki lebih dari 13 hak cipta, dua paten, serta enam buku di bidang inovasi kriya dan tradition-based product. Selain itu, Fajar aktif menjadi penelaah jurnal internasional bereputasi Q1 dan Q2, serta pembicara, fasilitator, dan konsultan ahli di berbagai forum.
Capaian akademik tersebut menjadi bagian dari perjalanan risetnya untuk mengembangkan inovasi produk yang berpijak pada tradisi dan pengetahuan masyarakat.
Sistem Rekomendasi AI dan Hak Pengguna Menentukan Pilihan
Berbeda dengan Fajar, Z.K. Abdurrahman Baizal meneliti sistem rekomendasi selama satu dekade, dari 2016 hingga 2026.
Teknologi ini digunakan berbagai platform digital untuk menyajikan konten atau pilihan berdasarkan karakteristik dan interaksi pengguna. Namun, rekomendasi yang dihasilkan sistem belum tentu sepenuhnya mencerminkan keinginan seseorang.
Baizal berupaya mengembangkan personalisasi yang memberikan ruang lebih besar bagi pengguna untuk menyampaikan preferensi secara langsung.
“Bagaimana nanti kita dapat meningkatkan personalisasi supaya user itu diberikan kesempatan untuk memberikan feedback,” ujarnya.
Umpan balik pengguna menjadi unsur penting dalam pengembangan sistem tersebut. Preferensi seseorang dapat berubah, sedangkan riwayat interaksi belum tentu menggambarkan kebutuhan terkini secara utuh.
Penelitiannya juga mencakup sistem rekomendasi rute wisata yang dapat menyesuaikan pilihan perjalanan dengan anggaran, jumlah destinasi yang ingin dikunjungi, serta popularitas tempat tujuan.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sistem rekomendasi tidak cukup hanya mengandalkan popularitas. Teknologi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan dan batasan masing-masing pengguna agar pilihan yang ditawarkan lebih relevan.
Dua Riset, Dua Tantangan Keberlanjutan
Pengukuhan Fajar dan Baizal menambah jumlah guru besar Telkom University menjadi 21 orang. Keduanya mewakili dua bidang penelitian dengan tantangan yang berbeda.
Pada batik gedok, persoalan utama berkaitan dengan keberlanjutan tradisi, ketersediaan bahan baku, dan regenerasi perajin. Pada sistem rekomendasi, tantangannya terletak pada kemampuan teknologi menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengguna.
Penelitian Fajar menunjukkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengembangan inovasi yang bersumber dari tradisi. Sementara itu, penelitian Baizal menyoroti perlunya memberikan ruang kepada pengguna untuk memengaruhi rekomendasi yang mereka terima.
Pengukuhan guru besar bukan hanya penanda capaian akademik. Penelitian yang dikembangkan para profesor juga menghadapi tuntutan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan di luar lingkungan kampus.
Bagi batik gedok, tantangannya adalah menjaga agar tradisi tidak kehilangan ekosistem dan penerusnya. Bagi sistem rekomendasi, pekerjaan rumahnya adalah memastikan teknologi semakin mampu memahami kebutuhan manusia yang dilayaninya.
































