BANDUNG – Sampah plastik yang selama ini kerap dipandang sebelah mata ternyata menyimpan peluangekonomi yang menjanjikan. Hal itu dibuktikan oleh 30 wargaKota Bandung yang mengikuti Pelatihan Inovasi KerajinanBerbasis Limbah Plastik yang digelar Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung di UPT Balai Industri, Jalan Cigondewah Kaler No. 2, Bandung, pada 27–29 November 2026.
Selama tiga hari, para peserta menyulaptumpukan bungkus plastik menjadi kursi dan meja yang siappakai.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Reformasi Birokrasi (RB) Tematik Kemiskinan Tahun Anggaran 2026. Sasarannya adalah masyarakat Kota Bandung yang masukkategori desil 1 hingga 5 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan telah melalui proses verifikasi.
Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin. Turut hadir Pembina Industri Ahli Madya Dedi Priadi Nugraha, Kepala BidangUsaha dan Sarana Perdagangan Indah Kurniawati, KepalaBidang Perencanaan dan Pengembangan Industri Muhammad Qadafi, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Industri R. Muhammad Taufiq Hidayat, Kepala UPT Balai Industri Fahmi Akhmadi, serta Kepala Subbagian Tata Usaha UPT Balai Industri Susilawaty Yono.
Dalam sambutannya, Ronny menegaskan bahwa pelatihan inimerupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam memberdayakan masyarakat melalui peningkatanketerampilan dan kreativitas. Menurutnya, limbah plastikyang berpotensi mencemari lingkungan justru bisa diolahmenjadi produk kerajinan yang memiliki nilai guna sekaligusnilai ekonomi.
“Saya berharap keterampilan yang diperoleh tidak hanyabermanfaat selama pelatihan, tetapi juga terus dipraktikkandan dikembangkan setelah kegiatan selesai. Dengan begitu, terbuka peluang usaha produktif untuk meningkatkanpendapatan dan kemandirian ekonomi keluarga,” ujar Ronny.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber, instruktur, panitia, serta seluruh pihak yang mendukungterselenggaranya kegiatan. Ronny berharap pelatihan iniberjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi peserta, sekaligus mendorong kemandirian dan kesejahteraanmasyarakat Kota Bandung.
Dorong Kemandirian Ekonomi Keluarga
Sementara itu, Kepala UPT Balai Industri, Fahmi Akhmadi, memaparkan bahwa pemberdayaan masyarakat melaluipeningkatan keterampilan diharapkan mampu mendorongkemandirian ekonomi, membuka peluang usaha baru, dan menambah pendapatan keluarga.
“Melalui pelatihan ini, peserta dibekali keterampilanmengolah limbah plastik menjadi produk kreatif dan bernilaiekonomis yang berpotensi dikembangkan menjadi usahaproduktif,” kata Fahmi.
Ia menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan untukmemberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan limbahplastik menjadi produk bernilai tambah. Adapun tujuannyaadalah meningkatkan keterampilan dan kreativitas pesertasehingga mampu menghasilkan produk yang layak jual, membuka peluang usaha, serta memperkuat kemandirianekonomi.
Fahmi menambahkan, pelaksanaan pelatihan berpijak pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang OptimalisasiPelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan PenghapusanKemiskinan Ekstrem, serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran(DPA) Disdagin Kota Bandung Tahun 2026.
Dari Ecobrick Menjadi Furnitur
Pelatihan dipandu oleh Pipin Sukandi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama yang juga dikenal sebagai trainer kewirausahaan. Ia menjelaskan bahwa materi pelatihan dirancang dalam tiga tahap yang saling bekerja sama dengan Universitas Widyatama.
Pada hari pertama, peserta dibekali pemahaman tentang teknikecobrick, yakni metode memadatkan sampah plastik ke dalambotol hingga menjadi fondasi ramah lingkungan. Ecobrickinilah yang kemudian menjadi fondasi pembuatan furniturberupa kursi dan meja.
Memasuki hari kedua, peserta diarahkan untuk merangkaiecobrick yang telah dibuat menjadi kerangka kursi dan meja. Sedangkan pada hari ketiga, peserta menuntaskan tahapfinishing hingga furnitur benar-benar kokoh dan siapdigunakan.
Tak berhenti di situ, mereka juga dibekali strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan memiliki daya jual.
“Peserta yang berjumlah 30 orang sangat antusias mengikutipraktik selama tiga hari. Di akhir acara, mereka membawapulang kursi hasil karya mereka sendiri,” ujar Pipin, yang juga merupakan dosen entrepreneurship.
Menurut Pipin, keterampilan mengolah limbah plastikmenjadi furnitur bukan sekadar upaya menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi warga untukmerintis usaha. Dengan bahan baku yang mudah didapat dan biaya yang murah, produk ecobrick memiliki peluang pasar yang terbuka, terutama di tengah meningkatnya kesadaranmasyarakat terhadap produk ramah lingkungan.
Melalui pelatihan ini, Disdagin Kota Bandung berharap lahirpelaku usaha baru dari kalangan masyarakat yang mampumengubah persoalan sampah menjadi sumber penghasilan. Langkah kecil dari ruang pelatihan di Cigondewah inidiharapkan menjadi bagian dari upaya besar mengentaskankemiskinan dan mewujudkan Kota Bandung yang lebihbersih, mandiri, dan sejahtera.
































