Menu ✖

Mode Gelap
Jalan Sehat, Kuis, hingga Doorprize Meriahkan Cibeureum Wetan Walkers Ubah Konflik Jadi Peluang Belajar: Dosen Universitas Widyatama Latih Guru PAUD Cimahi Selatan Kelola Konflik di Kelas Jasa Raharja dan Subdenpom Karawang Perkuat Sinergi Penanganan Laka Lantas yang Melibatkan Anggota TNI Tingkatkan Kesiapsiagaan, Jasa Raharja Cabang Cirebon Gelar Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) Di Kec Palimanan Kab Cirebon Upaya Keselamatan Lalu Lintas, PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Cirebon Gelar Pengajar Peduli Keselamatan Lalu Lintas (PPKL) Di SMAN 1 Arjawinangun Kab Cirebon

Pendidikan · 29 Okt 2026 14:43 WIB

Menjawab Zaman Lewat Tradisi dan AI: Dua Guru Besar Baru Telkom University Dikukuhkan


					Menjawab Zaman Lewat Tradisi dan AI: Dua Guru Besar Baru Telkom University Dikukuhkan Perbesar

BANDUNG – Batik gedok di Tuban, Jawa Timur, menghadapi persoalan regenerasi perajin dan semakin langkanya bahan baku.

Sementara itu, perkembangan kecerdasan buatan (AI) menuntut sistem digital yang bukan sekadar menyodorkan pilihan, tetapi juga mampu memahami preferensi penggunanya.

Dua persoalan tersebut menjadi sorotan dalam pengukuhan dua guru besar Telkom University melalui sidang terbuka senat di Auditorium Gedung Damar, Kamis, 29 Oktober 2026.

Rektor Telkom University menyebut pengukuhan dua profesor tersebut sebagai hasil dari kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Capaian itu sekaligus menjadi kebanggaan bagi seluruh sivitas akademika kampus.

“Capaian ini merupakan buah dari kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Sekaligus kebanggaan bagi seluruh sivitas akademika Telkom University,” ujar Rektor Telkom University dalam sambutannya.

Telkom University kini memiliki 21 guru besar dari berbagai bidang keilmuan. Dua profesor yang dikukuhkan adalah Fajar Ciptandi, guru besar bidang Tradition-Based Product, dan Z.K. Abdurrahman Baizal, yang menekuni pengembangan sistem rekomendasi.

Penelitian keduanya bergerak di bidang berbeda, tetapi sama-sama berupaya menjawab persoalan nyata melalui pengembangan pengetahuan dan inovasi.

Batik Gedok dan Ancaman Putusnya Tradisi

Fajar Ciptandi mengembangkan penelitian berbasis masyarakat sejak 2018. Salah satu lokasi risetnya berada di Karang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dengan fokus pada keberlanjutan tradisi batik gedok.

Tradisi ini tidak berhenti pada proses membatik.

Ekosistem produksinya mencakup penanaman kapas, pemintalan benang, penenunan kain, hingga pemberian motif melalui proses pembatikan.

Rangkaian tersebut menyimpan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi.

Namun, keberlangsungannya menghadapi tantangan ketika tanaman kapas dan indigo semakin jarang ditemukan, sementara regenerasi perajin mulai melemah.

Baca Juga :  FK Tel-U Resmi Dibuka: Mengawinkan AI dan Ilmu Kedokteran Presisi

Persoalannya bukan sekadar mempertahankan motif tradisional. Ketika bahan baku semakin sulit diperoleh dan jumlah penerus menyusut, pengetahuan yang menopang keseluruhan proses produksi juga berisiko terputus.

Fajar memilih pendekatan inovasi yang melibatkan masyarakat sejak awal. Warga tidak ditempatkan hanya sebagai objek penelitian atau penerima hasil pengembangan produk, melainkan sebagai pihak yang ikut menentukan arah masa depan tradisinya.

“Jadi inovasi ini lahir justru dilakukan bersama dengan mereka, jadi tidak top-down,” kata Fajar.

Pendekatan tersebut menempatkan pengetahuan lokal sebagai bagian penting dari inovasi. Pengembangan produk, menurut pendekatan yang ditempuhnya, perlu berjalan bersama masyarakat agar tradisi tetap memiliki tempat dalam kehidupan mereka.

Fajar merupakan guru besar pertama di Fakultas Industri Kreatif Telkom University. Berdasarkan paparan rektor dalam sidang pengukuhan, ia telah memublikasikan 87 artikel di jurnal nasional dan internasional bereputasi, dengan indeks-H Scopus 5.

Ia juga memiliki lebih dari 13 hak cipta, dua paten, serta enam buku di bidang inovasi kriya dan tradition-based product. Selain itu, Fajar aktif menjadi penelaah jurnal internasional bereputasi Q1 dan Q2, serta pembicara, fasilitator, dan konsultan ahli di berbagai forum.

Capaian akademik tersebut menjadi bagian dari perjalanan risetnya untuk mengembangkan inovasi produk yang berpijak pada tradisi dan pengetahuan masyarakat.

Sistem Rekomendasi AI dan Hak Pengguna Menentukan Pilihan

Berbeda dengan Fajar, Z.K. Abdurrahman Baizal meneliti sistem rekomendasi selama satu dekade, dari 2016 hingga 2026.

Teknologi ini digunakan berbagai platform digital untuk menyajikan konten atau pilihan berdasarkan karakteristik dan interaksi pengguna. Namun, rekomendasi yang dihasilkan sistem belum tentu sepenuhnya mencerminkan keinginan seseorang.

Baca Juga :  Telkom University Resmi Umumkan 180 Tim Lolos Social Project Innovillage 2025

Baizal berupaya mengembangkan personalisasi yang memberikan ruang lebih besar bagi pengguna untuk menyampaikan preferensi secara langsung.

“Bagaimana nanti kita dapat meningkatkan personalisasi supaya user itu diberikan kesempatan untuk memberikan feedback,” ujarnya.

Umpan balik pengguna menjadi unsur penting dalam pengembangan sistem tersebut. Preferensi seseorang dapat berubah, sedangkan riwayat interaksi belum tentu menggambarkan kebutuhan terkini secara utuh.

Penelitiannya juga mencakup sistem rekomendasi rute wisata yang dapat menyesuaikan pilihan perjalanan dengan anggaran, jumlah destinasi yang ingin dikunjungi, serta popularitas tempat tujuan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sistem rekomendasi tidak cukup hanya mengandalkan popularitas. Teknologi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan dan batasan masing-masing pengguna agar pilihan yang ditawarkan lebih relevan.

Dua Riset, Dua Tantangan Keberlanjutan

Pengukuhan Fajar dan Baizal menambah jumlah guru besar Telkom University menjadi 21 orang. Keduanya mewakili dua bidang penelitian dengan tantangan yang berbeda.

Pada batik gedok, persoalan utama berkaitan dengan keberlanjutan tradisi, ketersediaan bahan baku, dan regenerasi perajin. Pada sistem rekomendasi, tantangannya terletak pada kemampuan teknologi menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengguna.

Penelitian Fajar menunjukkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengembangan inovasi yang bersumber dari tradisi. Sementara itu, penelitian Baizal menyoroti perlunya memberikan ruang kepada pengguna untuk memengaruhi rekomendasi yang mereka terima.

Pengukuhan guru besar bukan hanya penanda capaian akademik. Penelitian yang dikembangkan para profesor juga menghadapi tuntutan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan di luar lingkungan kampus.

Bagi batik gedok, tantangannya adalah menjaga agar tradisi tidak kehilangan ekosistem dan penerusnya. Bagi sistem rekomendasi, pekerjaan rumahnya adalah memastikan teknologi semakin mampu memahami kebutuhan manusia yang dilayaninya.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Sulap Sampah Plastik Jadi Kursi dan Meja, Disdagin Kota Bandung Latih 30 Warga Rintis Usaha Kreatif  

29 Oktober 2026 - 09:50 WIB

UPI Siapkan 1.000 Dosis Vaksin HPV, Perluas Pencegahan Kanker Serviks

22 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Dies Natalis ke-72 UPI: Dorong Hasil Riset Dosen Jadi Produk Massal dan Startup

20 Oktober 2026 - 12:51 WIB

Pesan Rektor UPI Saat Wisuda 2026: Dari Kesiapan AI hingga Ancam Keluarkan Pelaku Perundungan

13 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Respons Cepat Kasus Perundungan Asrama, Telkom University Tindak Tegas Pelaku

11 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Edukasi K3 dan Skrining Fungsi Hati: Langkah FK Unjani Lindungi Kesehatan Petani Sumedang

10 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Trending di Pendidikan