BANDUNG – Fakultas Kedokteran Telkom University (FK Tel-U) memasuki babak pertamanya dengan ambisi besar yakni melahirkan dokter yang tidak hanya menguasai ilmu klinis, tetapi juga mampu membaca kesehatan manusia melalui kecerdasan buatan.
Namun, di tengah gegap gempita teknologi artificial intelligence atau AI, ada pesan yang justru jauh lebih sederhana. Calon dokter harus mampu memulai dari dirinya sendiri
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. med. Setiawan, dr., AIFM, dalam peluncuran FK Tel-U, pada Rabu (7/10/2026).
Setiawan mengingatkan pendidikan kedokteran jangan berhenti pada penguasaan teori. Menurut dia, generasi pertama FK Tel-U justru memiliki tanggung jawab lebih besar karena menjadi fondasi bagi generasi berikutnya.
“Sering kali pendidikan kedokteran itu berhenti pada ilmu. Nah, kami berharap Tel-U, karena ini generasi pertama, bisa berbeda,” kata Setiawan.
Menurut dia, generasi pertama tidak memiliki “kakak” yang bisa dijadikan rujukan. Karena itu, mereka harus mampu membangun budaya belajar dan perilaku yang kelak menjadi contoh bagi mahasiswa angkatan berikutnya.
Setiawan menilai Tel-U memiliki modal teknologi yang kuat. Persoalannya adalah bagaimana teknologi tersebut tidak membuat pendidikan dokter kehilangan aspek paling mendasar: kemampuan membentuk manusia.
“Dari sisi teknologi saya sudah tidak ragu. Tel-U sudah punya kekuatan. Tetapi bagaimana memastikan kompetensi sebagai dokter yang punya kemampuan mentransformasi dirinya?” ujarnya.
Ia bahkan menyoroti persoalan yang tampak sederhana: aktivitas fisik mahasiswa.
Setiawan yang mengaku memiliki latar belakang exercise physiology mengatakan pernah mengajak sekitar 80 orang jogging. Hanya kurang dari 20 orang yang mampu mengikuti, meski kecepatan lari yang digunakan relatif rendah.
“Karena mereka tidak pernah berolahraga. Jadi, mager itu salah satu problem,” katanya.
Bagi Setiawan, persoalan tersebut bukan perkara sepele. Pendidikan dokter semestinya tidak hanya mengajarkan seseorang bagaimana menangani penyakit orang lain, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan diri.
Karena itu, ia mendorong Tel-U mengembangkan program yang membuat mahasiswa mempraktikkan ilmu kesehatan terhadap dirinya sendiri.
“Semua harus dimulai dari dirinya sendiri,” ujar Setiawan.
Gagasan itu sejalan dengan konsep Kampus Sehat yang menurut Setiawan dikembangkan pemerintah bersama Kementerian Kesehatan dengan mengacu pada pedoman internasional.
Program tersebut, kata dia, tidak semata-mata ditujukan kepada mahasiswa kedokteran. Lingkupnya mencakup seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan.
“Ini tidak berlaku hanya untuk mahasiswa kedokteran atau bidang kesehatan, tetapi berlaku untuk kampus secara keseluruhan,” katanya.
Pesan Setiawan menjadi menarik karena FK Tel-U justru lahir dengan identitas teknologi yang sangat kuat.
Tel-U resmi membuka FK berdasarkan SK Kemdiktisaintek Nomor 963/B/O/2026. Peresmian berlangsung pada 1 September 2026 di kampus Bandung. FK Tel-U diarahkan untuk mengembangkan pendidikan kedokteran berbasis predictive and precision medicine.
Rektor Telkom University Prof. Dr. Suyanto, S.T., M.Sc., mengatakan kekhasan FK Tel-U terletak pada pemanfaatan AI.
Menurut dia, AI yang dikembangkan Tel-U dirancang dengan prinsip safe AI: secure, sustainable, accurate, accountable, fair, fast, dan explainable ethical artificial intelligence.
“Dengan melakukan genome and exposome analytics itu bisa menghasilkan sebuah kedokteran yang mengarah kepada prediktif dan presisi,” kata Suyanto.
Genome analytics digunakan untuk membaca aspek genetik dan DNA seseorang.
Sementara exposome analytics digunakan untuk memahami paparan lingkungan yang memengaruhi kesehatan.
Suyanto mengatakan pendekatan tersebut diharapkan membentuk dokter yang memahami standar kompetensi dokter umum sekaligus memiliki kemampuan menggunakan AI dalam membaca faktor genetik dan lingkungan.
“Jadi kombinasi antara genome and exposome analytics yang dilakukan secara presisi dan prediktif itu yang menghasilkan sebuah teknologi masa depan,” ujarnya.
Tetapi Tel-U tidak ingin mempercepat ekspansi mahasiswa tanpa memperhitungkan mutu. Kuota awal FK Tel-U ditetapkan 50 mahasiswa. Menurut Suyanto, pembatasan tersebut merupakan bagian dari kebijakan untuk menjaga kualitas pendidikan kedokteran.
“Untuk menjamin kualitas karena ini menyangkut nyawa manusia. Jadi tidak boleh berlebihan, takutnya lulusannya menjadi tidak berkualitas,” kata Suyanto.
Pada tahap awal, FK Tel-U didukung Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung sebagai fakultas kedokteran pembina serta RS dr. R. Soedjati Soemodiardjo sebagai rumah sakit pendidikan utama. Tel-U juga menyiapkan gedung utama FK seluas sekitar 5.000 meter persegi dengan 11 laboratorium dan fasilitas simulasi klinis.
Tel-U sebelumnya juga menerima SK Fakultas Kedokteran dari LLDIKTI Wilayah IV pada 9 September 2026. Penyerahan SK tersebut berlangsung bersamaan dengan Main Event IMPACT-EDU 2026.
Untuk mahasiswa, Tel-U menawarkan dua skema beasiswa yang disebut Suyanto.
Beasiswa Unggulan mencakup biaya studi dan asrama hingga lulus, sedangkan Beasiswa Pintar memberikan potongan Rp100 juta untuk biaya masuk.
Pada akhirnya, tantangan FK Tel-U bukan sekadar seberapa canggih AI yang dapat digunakan mahasiswa kedokteran.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah teknologi itu mampu melahirkan dokter yang tetap manusiawi, sehat, disiplin, mampu memahami pasien, sekaligus sanggup membaca data kesehatan yang semakin kompleks.
Sebab, seperti diingatkan Setiawan, teknologi boleh semakin pintar. Tetapi pendidikan dokter tetap harus dimulai dari manusianya.































