Hery Susanto yang juga Program Owner Innovillage tersebut menjelaskan, pendekatan frugal innovation ini sangat relevan dengan kebutuhan Telkom yang tengah bertransformasi dari perusahaan konektivitas menjadi penyedia layanan digital terdepan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya membuat teknologi canggih, tapi juga solusi yang benar-benar bisa dipakai masyarakat bawah untuk menyelesaikan masalah keseharian. Inilah yang kami cari,” tegasnya.
Proses seleksi proposal tahun ini jauh lebih ketat. Menggunakan metodologi design thinking, peserta didorong memetakan masalah secara komprehensif: dari identifikasi keresahan masyarakat, perancangan solusi, hingga implementasi dan pengukuran dampak di lapangan.
Fokus inovasi diarahkan pada lima kategori prioritas, antara lain pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas dan penanganan kerawanan pangan. Meski banyak memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), nilai utama yang dicari adalah kesederhanaan dan kebermanfaatan luas.
VP IT Digital Governance & Quality Dr. Riza A. N. Rukmana, menegaskan hal yang sama. “Sebenarnya yang kami cari adalah inovasi yang sederhana tapi malah bisa digunakan oleh masyarakat luas untuk menyelesaikan masalah keseharian,” katanya.
Riza menambahkan, seluruh ide terbaik dari Innovillage akan terus dikawal oleh Telkom. Beberapa solusi bahkan berpotensi diintegrasikan ke dalam portofolio digital services perusahaan.
“Bagi Telkom Group, Innovillage adalah investasi jangka panjang. Ide mahasiswa hari ini bisa menjadi produk dan layanan digital Telkom besok. Ini win-win solution: mahasiswa mendapat pengalaman nyata, masyarakat mendapat solusi, dan Telkom mendapat inovasi segar yang relevan dengan kebutuhan pasar,” pungkasnya.






























