JAKARTA – Forum Komunikasi Dosen Seluruh Indonesia (FKDSI) akan menggelar Aksi Damaipada Rabu, 27 Agustus 2025 di depan Gedung Kemendiktisaintek dan Kompleks DPR RI, Jakarta.
Aksi ini digelar sebagai bentuk seruan moral dan aspirasi terkait transparansi dan keadilan dalam seleksi Beasiswa Pendidikan Doktor Dalam Negeri (PDDI) 2025.
FKDSI menilai, beasiswa PDDI yang seharusnya menjadi investasi strategis pembangunan sumber daya manusia dosen, masih menghadapi persoalan serius. Banyak dosen yang sudah siap kuliah namun terkendala karena sistem penyelenggaraan tidak sejalan dengan kebijakan akademik kampus tujuan, sehingga berdampak pada kondisi finansial, psikologis, hingga akademis.
Dalam aksi tersebut, Perwakilan FKDSI A.Herenal Daeng Toto S.E.,M.M menyampaikan lima tuntutan utama, yakni: 1) pemenuhan kuota 5.000 pendaftar, 2)transparansi proses seleksi dan akses publik terhadap data hasil seleksi, 3) penyesuaian dan penyederhanaan sistem seleksi berkerjasama dengan berbagai kampus tujuan, 4) evaluasi sistem penilaian, serta 5) kepastian dan keadilan bagi seluruh pelamar, termasuk yang defer maupun tidak lolos.
Selain itu, FKDSI juga mendorong peningkatan dan realokasi kuota prioritas bagi dosen pendaftar yang terdampak mencapai 5000 kuota, pemenuhan kebutuhan mendesak SDM dosen bergelar doktor, pemerataan akses pendidikan tinggi bagi dosen PTN dan PTS dari Sabang hingga Merauke, serta pengawalan kebijakan jangka panjang agar PDDI benar-benar menjadi investasi strategis dengan seleksi terpadu satu pintu.
“Aksi ini damai, terbuka, dan konstitusional. Kami ingin memastikan beasiswa ini benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas dosen dan pendidikan tinggi nasional,” tegas perwakilan FKDSI Perwakilan FKDSI A.Herenal Daeng Toto, dalam siaran persnya.
Aksi Damai FKDSI terbuka bagi seluruh dosen, masyarakat pendidikan, media, dan pihak terkait yang peduli terhadap masa depan pendidikan tinggi di Indonesia.



























