“Saya kira banyak kejadian di beberapa kota dan kabupaten termasuk provinsi, yang salah satu (pimpinan daerah) bermasalah, kemudian bisa efektif juga berjalan. Karena bisa mengefektifkan tadi kolaborasi, koordinasi, dan programnya bisa kemudian diterima oleh publik secara terbuka,” terangnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku telah menunggu forum diskusi semacam ini. Dalam forum seperti ini pihaknya mendapat pandangan yang objektif serta masukan yang lebih konstruktif untuk kemajuan Kota Bandung.
“Selama ini kan kalau di Pemerintahan Kota Bandung itu pasti ada banyak kepentingan yang mesti kita akomodir. Kemudian, ada banyak juga subjektivitas. Ketika, contohnya, saya terlibat dalam rutinitas itu lama-lama, menurut saya yang pentingnya cuma yang rutin, sedangkan yang esensial, substansial, menurut hal-hal yang pandangan lebih objektif, bisa jadi kelewat,” tuturnya.
Dengan adanya kegiatan ini, diutarakan dia, bisa mempererat komunikasi antara birokrat dan akademisi, sehingga menghasilkan sesuatu yang bukan sekedar wacana. Farhan mengklaim jika pihaknya telah menjalin kerja sama atau nota kesepahaman dengan perguruan tinggi.
“Tapi pada saat bersamaan, tentu saja di setiap perguruan tinggi juga punya sosok-sosok yang bisa kita jadikan pegangan. Itu yang diperlukan,” ujar farhan.



























