“Dari dahulu beberapa gubernur sudah disampaikan untuk lakukan pemugaran. Ya mungkin, kemarin-kemarin (gubernur) belum sempat, maka kami akan upayakan ke gubernur yang baru,” katanya.
Sosok Marhaen di mata Ono, merupakan salahsatu masyarakat kelas bawah yang menjadi teman diskusi Bung Karno.
Pasalnya, masa muda Bung Karno itu dihabiskan di Bandung. Bahkan, Bung Karno banyak melakukan pergerakan politik yang berujung pada Indonesia merdeka.
“Untuk Indonesia merdeka ini kan tentunya perlu dasar, maka Bung Karno mencoba menggali apa sih keistimewaan Indonesia. Dahulu kan ada dua ideologi besar di dunia, yakni komunisme dan liberalisme. Sedangkan Indonesia kan tak masuk keduanya. Indonesia itu ya Marhaen, yakni merdeka, sawah milik sendiri, cangkul punya sendiri, menggarap (sawah) sendiri, dan hasilnya untuk sendiri. Tapi, kondisinya tak kaya, maka itulah ciri khas Indonesia dan muncul yang dinamakan Marhaenisme,” kata Ono.
Selain sosok Marhaen, Ono pun menyebut banyak tokoh di Jabar yang selalu menjadi teman diskusi Bung Karno dan menginspirasinya guna memerdekakan Indonesia.
“Jadi, Marhaen ini tak lepas dari tonggak sejarah Bung Karno dalam pergerakannya di tanah air. Kami berharap ketika berbicara keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka ujungnya ialah terwujudnya Trisakti, serta menjalankan yang namanya Pancasila,” katanya.(*)


























