“PTDI sebagai sektor industri pertahanan harus senantiasa mengantisipasi serangan siber untuk mengamankan proses bisnis organisasi. Banyak insiden siber yang sudah terjadi di industri global, seperti ransomware pada Boeing di tahun 2018 yang menyebabkan gangguan pada proses produksi otomasi mesin dan insiden kebocoran data sensitif pada Airbus di tahun 2019. DI-CSIRT diharapkan mampu membentuk sistem elektronik PTDI yang aman dan kondusif, sehingga dapat mendukung PTDI menjadi pemimpin pasar turboprop di kawasan Asia Pasifik,” kata Komjen Pol. Luki Hermawan, Wakil Kepala BSSN.
Dalam kesempatan ini, PTDI meluncurkan Dirgantara Indonesia Computer Security Incident Response Team (DI-CSIRT) untuk memberikan pelayanan keamanan siber pada aset dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu pilar menghadapi cybercrime atau kejahatan siber, yang tentunya hal tersebut akan berpengaruh terhadap prestasi dan kinerja organisasi.
“Dengan telah diluncurkannya DI-CSIRT diharapkan tim dan agen insiden siber di setiap perangkat organisasi dapat menjalankan tugas sesuai fungsinya dan melakukan monitoring keamanan terhadap informasi/kerahasiaan data masing-masing. Tim ini sangat penting untuk minimalisir dan pengendalian atas kerusakan yang diakibatkan oleh insiden siber, responsif terhadap pemulihan yang efektif, serta mencegah terjadinya insiden di masa mendatang, sehingga kami mengucapkan terima kasih kepada BSSN dan seluruh tim yang terlibat,” kata Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.



























