BANDUNG – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan monitoring terhadap pelaksanaan proyek pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme bersama kader PKK Desa Cigugur Girang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (1/8/2026).
Proyek ini berangkat darikeresahan akibat keterbatasan kuota buang dan penutupan akses ke TPA Sarimukti. Selain itu program ini merupakansalah satu upaya meminimalisir timbulan sampah di Bandung Raya.
Ketua Pengabdian kepada Masyarakat, Fitri Husni Mardliyah, M,Pd mengugkapkan bahwasa program ini sudah dimulai sejak Juni 2026.
“Proyek ini merupakan bagian dari upayapemberdayaan masyarakat dalam mengoptimalkan pengelolaan limbah pertanian sekaligus mendorong penerapan teknologi sederhana di tingkat desa”, ujar Fitri, dalam siaran persnya.
Kegiatan melibatkan kader PKK Desa Cigugur Girangsebagai mitra utama dalam pengelolaan limbah organik. Pelaksanaan program diawali dengan studi pendahuluan untuk mengidentifikasi kondisi dan kebutuhan mitra, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta monitoring yang dilakukan secara berkala setiap dua pekan.
Dalam monitoring yang dilakukan pada 1 Agustus, tim UPI melihat perkembangan proses pengolahan limbah organikmenjadi eco-enzyme sekaligus memberikan pendampingan kepada para kader PKK. Program ini tidak hanya berfokuspada keterampilan teknis pembuatan eco-enzyme, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) sederhana untuk membantu memantau proses fermentasi.
Teknologi tersebut digunakan untuk memonitor parameter penting, seperti suhu dan tingkat keasaman (pH), selamaproses fermentasi. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapatmembantu mitra memahami kondisi fermentasi secara lebih terukur sehingga proses pengolahan dapat dilakukan secaralebih optimal.
Ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa program iniberangkat dari sejumlah persoalan yang ditemukan di masyarakat, terutama belum optimalnya pengelolaan limbahpertanian, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalammengolah limbah organik, serta belum tersedianyapemanfaatan teknologi sederhana untuk membantumengontrol proses fermentasi.
“Melalui program ini, kami tidak hanya memberikanpelatihan, tetapi juga mendampingi mitra agar mampumengelola proses secara mandiri. Teknologi IoT digunakansebagai alat bantu agar proses fermentasi dapat dipantaudengan lebih baik,” ujar tim pengabdian.
Selain pelatihan dan penerapan teknologi, tim UPI juga mendampingi mitra dalam penyusunan standar operasionalprosedur (SOP). SOP tersebut diharapkan menjadi panduanbagi kader PKK dalam menjalankan proses pengolahan limbah secara konsisten dan berkelanjutan.
Keterlibatan PKK menjadi bagian penting dalam program inikarena kelompok tersebut memiliki posisi strategis dalam menggerakkan partisipasi masyarakat di tingkat desa. Melaluipenguatan kapasitas kader, pengelolaan limbah tidak berhentipada kegiatan pelatihan, tetapi diharapkan berkembangmenjadi praktik bersama yang dapat memberikan manfaatbagi lingkungan dan masyarakat.
Program pengabdian ini sekaligus mendorong praktikpertanian yang lebih ramah lingkungan. Limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungandiarahkan untuk dimanfaatkan melalui proses pengolahanyang lebih produktif.
Dengan adanya pendampingan secara berkala, penerapan teknologi IoT, dan penyusunan SOP, program diharapkandapat memperkuat kapasitas PKK Desa Cigugur Girangdalam mengelola limbah secara mandiri. Dalam jangkapanjang, inisiatif tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya pengelolaan lingkungan desa yang lebihberkelanjutan.
Kegiatan monitoring akan terus dilakukan secara berkalauntuk melihat perkembangan program, mengidentifikasi kendala di lapangan, serta memastikan teknologi dan keterampilan yang diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.































