Menu

Mode Gelap
Lewat Program CSR, Telkom Indonesia dan Telkom University Dorong Kemandirian Energi Desa Lewat Biodigester di Boyolali Anugerah Avirama Nawasena 2026 Soroti Praktik Nyata ESG dan Kepemimpinan Berkelanjutan Dies Natalis ke-22, SBM ITB Tegaskan Komitmen Pendidikan Bisnis Berdampak SBM ITB Luncurkan Thought Leadership: Entrepreneurial Business 600 Orang Lebih Laksanakan Kegiatan Wisuda di UPI, Prof Didi Singgung Ijazah

Bandung · 11 Okt 2025 14:26 WIB

Guru Besar SBM ITB Sampaikan Orasi Ilmiahnya


					Guru Besar SBM ITB Sampaikan Orasi Ilmiahnya Perbesar

BANDUNG – Profesor Donald Crestofel Lantu, Guru Besar dalam kelompok keahlian People and Knowledge Management di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), menyampaikan orasi ilmiahnya dalam Forum Guru Besar dengan topik “Pengembangan Kepemimpinan Bisnis: Pergeseran Paradigma dari Individu ke Ekosistem.”

Prof Donald merupakan dosen Guru Besar dalam Bidang Kepemimpinan Bisnis yang dikukuhkan pada 1 Desember 2025 dia dikenal luas atas dedikasinya dalam dunia akademik dan kepemimpinan bisnis. Hingga kini, ia telah membimbing 10 mahasiswa sarjana, 51 magister, dan 6 doktor, serta berperan aktif sebagai Wakil Bidang Sumber Daya SBM ITB.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Donald membuka dengan sebuah pertanyaan mendasar: apa yang dimaksud dengan kepemimpinan itu sendiri?

Ia menjelaskan bahwa Diskursus yang berkembang dari awal sampai kekinian memperlihatkan pemimpin hero yang bisa membawa organisasi menuju pencapaiannya. Jika berhasil dipuji, kalau gagal akan dikritik.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa di era digital dan ekosistem bisnis saat ini, pendekatan digital leadership menjadi semakin relevan. Pemimpin dituntut mampu memanfaatkan teknologi dan platform daring sebagai sarana mempercepat transformasi organisasi.

Baca Juga :  HCM Talks 2025 SBM ITB: Maksimalkan Peran Gen Z dalam Bisnis Berkelanjutan

Ia menyoroti perubahan kepemimpinan kontemporer yang kini dipahami sebagai proses sosial, hasil interaksi antara pemimpin, anggota, dan konteks organisasi. Selain menekankan pentingnya kolaborasi, ia juga menyoroti etika dan konteks global sebagai kunci kepemimpinan efektif yang berintegritas, inklusif, serta selaras dengan nilai budaya agar tetap relevan dan berkelanjutan.

“Pemimpin bukan lagi super hero, melainkan hasil interaksi antara atasan, bawahan, dan konteks organisasi,” jelas Prof Donald, dalam siaran persnya Sabtu (11/10/2025).

Selama dua dekade terakhir, lanskap kepemimpinan telah mengalami perubahan dari era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menuju BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible).

“Pergeseran paradigma pada kepemimpinan bisnis bergerak dari individu menjadi kolektif atau ekosistem, keberhasilan kini lahir dari interaksi sosial, dari yang stabil menjadi adaptif, dan dari orientasi internal menuju relasi global,” tuturnya.

Tren ini juga memperkenalkan konsep ambidextrous leadership, yaitu kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan antara eksploitasi untuk efisiensi dan eksplorasi untuk pertumbuhan.

Baca Juga :  ICMEM SBM ITB 2025: Leadership dengan Purpose sebagai Kunci Perubahan Berkelanjutan

“Fokus bisnis sekarang adalah menghasilkan cashflow sebesar-besarnya dengan melakukan efisiensi melalui transformasi digital  sering dikenal sebagai pendekatan eksploitasi,” paparnya.

Dalam penelitiannya bersama Dr. Hidayat dan Dr. Utomo, Prof. Donald mencontohkan praktik dari Harvard University yang mengembangkan model kepemimpinan ambidextrous dengan pembagian klaster sesuai konteks organisasi.

Ia menegaskan bahwa pengembangan kepemimpinan bukanlah investasi jangka panjang, melainkan investasi sekarang yang perlu diterapkan di seluruh tingkat organisasi untuk membangun daya saing, mendorong inovasi, dan memastikan keberlanjutan organisasi di masa depan.

Sebagai penutup, Prof. Donald menyampaikan bahwa kepemimpinan bisnis modern harus dipahami sebagai ekosistem yang hidup dan dinamis, bukan sekadar kapasitas individual.

Menurutnya, program pengembangan yang efektif harus bersifat terintegrasi, berjenjang, dan berkelanjutan.

Ia menutup orasinya dengan seruan penuh makna, “Marilah kita membangun budaya bisnis dan kepemimpinan kolektif berbasis ekosistem yang berkelanjutan, karena kepemimpinan adalah panggilan untuk melayani kemajuan bersama, sesuai dengan nilai SBM ITB — For the Greater Good.”

Artikel ini telah dibaca 61 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Gelar Audiensi, Jasa Raharja dan Kementerian PANRB Perkuat Koordinasi Tingkatkan Kepatuhan PKB dan SWDKLLJ

1 Agustus 2026 - 08:39 WIB

Jasa Raharja Jawa Barat Perkuat Keselamatan melalui Sosialisasi, Ramp Check, dan Pengobatan Gratis di Ruas Toll Padaleunyi – Cipularang

31 Juli 2026 - 10:28 WIB

Apresiasi Untuk Operator Kendaraan Umum, Jasa Raharja Karawang Berikan Pengobatan Gratis Bagi Pengemudi Di Po Agramas

31 Juli 2026 - 10:10 WIB

Dirut Perumdam TDA Indramayu Diperiksa Kejaksaan Selama 7 Jam Terkait Mark Up Belanja Rutin Rp39 Milyar

30 Juli 2026 - 20:39 WIB

Viral di TikTok, Seleksi Terbuka Jabatan Administrator di Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor Jadi Sorotan

30 Juli 2026 - 15:04 WIB

Berkontribusi terhadap Keselamatan dan Mobilitas Masyarakat, Jasa Raharja Raih Penghargaan di Ajang Transportasi Indonesia Awards 2026

30 Juli 2026 - 08:59 WIB

Trending di Berita Daerah