JAKARTA – Haydar Islami, Insan Humas dari Kantor Komunikasi Informasi dan Pelayanan Publik (KKIPP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Jumat, 19 Desember 2025 menjadi momen istimewa bagi dirinya.
Pasalnya, nama Haydar kembali dipanggil sebagai penerima penghargaan Insan Humas Diktisaintek, untuk tahun kedua secara berturut-turut.
Setelah meraih Gold Winner pada 2024, tahun ini Haydar dianugerahi Silver Winner, sebuah capaian yang tetap ia syukuri sebagai kehormatan sekaligus pemantik semangat untuk terus berkarya.
Di usianya yang ke-29 tahun, Haydar Islami menunjukkan bahwa konsistensi dan kerja kolektif mampu membawa seseorang melangkah jauh. Ia mengungkapkan rasa syukur mendalam atas penghargaan yang diraihnya.
“Saya mengucapkan rasa syukur yang mendalam atas capaian Silver Winner Anugerah Humas Diktisaintek 2025.Meskipun tahun ini belum berkesempatan meraih Gold Winner seperti tahun 2024, capaian ini tetap menjadi kehormatan dan motivasi besar bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi terbaik,” ujar Haydar dalam siaran persnya.
Bagi Haydar, penghargaan ini bukanlah kerja individu semata. Ia menekankan peran penting dukungan dan kepercayaan dari Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., Kepala KKIPP UPI, Vidi Sukmayadi, serta Kepala Seksi Komunikasidan Media, Angga Hadiapurwa yang telah memberi ruang, arahan, dan kepercayaan penuh kepadanya sebagai perwakilanInsan Humas dalam Anugerah Humas Diktisaintek 2025
Apresiasi juga ia sampaikan kepada tim produksi video Insan Humas dari KKIPP Seksi TV dan Radio. Karya video yang dihadirkan dalam ajang ini digarap secara original dan kolaboratif, mencerminkan dedikasi serta profesionalisme tim dalam mengemas pesan kehumasan secara kreatif dan berdampak.
Keistimewaan lain dari proyek ini terletak pada sentuhan personal Haydar.
Ia tidak hanya terlibat sebagai editor dan sutradara, tetapi juga mempersembahkan lagu original ciptaannya sendiri sebagai bagian dari narasi video.
“Proyek ini menjadi ruang kolaborasi yang tidak hanyakomunikatif, tetapi juga kreatif dan bermakna,” ucapnya.
Perjalanan Haydar sendiri tidak lepas dari proses panjang. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara, putra pasanganJaetun dan Tetti Kurniati, Haydar merupakan alumni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPI angkatan 2014dan menjadi Tenaga Pendidik di UPI pada tahun 2023, Haydarlangsung aktif berkontribusi dalam produksi konten kehumasan di KKIPP UPI.
Kemampuan teknisnya sebagai editor video ia peroleh melaluipelatihan sertifikasi internasional Adobe, meliputiProfessional Adobe Photo Editor with Photoshop dan Professional Adobe Video Editor with Premiere Pro. Sementara kemampuan menyutradarai dan menciptakan laguia pelajari secara otodidak, berangkat dari kegemarannya membuat konten media sosial dan pengalaman mengikutiajang-ajang pencarian bakat di stasiun televisi.
Keterbatasan justru menjadi pemantik kreativitas. Saat belummemiliki anggaran untuk produksi musik, Haydar belajar dariteman dan memanfaatkan aplikasi Digital Audio Workstation(DAW) untuk menggambar instrumen. Gitar menjadi alatmusik utama yang ia kuasai, sementara instrumen lainnyadiisi melalui kolaborasi dengan rekan-rekan.
Perbedaan antara Anugerah tahun 2024 dan 2025 pun terasa signifikan. Pergantian menteri membawa perubahan padakriteria penilaian dan tema komunikasi yang harus disampaikan. Namun, perubahan itu justru menjadi tantanganyang mendorong Haydar dan tim untuk terus beradaptasi dan berinovasi.
Tak hanya di Anugerah Insan Humas Dikti, konsistensi Haydar juga tercermin melalui penghargaan lain yang ia raih, di antaranya Anugerah Media Humas 2024 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Anugerah Media Humas 2025 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai Terbaik 2 Media Audio Visual.
Penghargaan yang diraih Haydar Islami ia persembahkansepenuhnya untuk UPI.
Ia berharap capaian ini dapat terus mengharumkan nama UPI di tingkat nasional sekaligusmenjadi penyemangat bagi seluruh Insan Humas untuk terusberinovasi, berkolaborasi, dan menghadirkan komunikasi publik yang bermakna serta berdampak.
Bagi Haydar, perjalanan ini bukan tentang piala semata, melainkan tentang proses belajar yang tak pernah usai — sebuah kisah tentang konsistensi, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkarya dari hati.



























