Menu

Mode Gelap
Lewat Program CSR, Telkom Indonesia dan Telkom University Dorong Kemandirian Energi Desa Lewat Biodigester di Boyolali Anugerah Avirama Nawasena 2026 Soroti Praktik Nyata ESG dan Kepemimpinan Berkelanjutan Dies Natalis ke-22, SBM ITB Tegaskan Komitmen Pendidikan Bisnis Berdampak SBM ITB Luncurkan Thought Leadership: Entrepreneurial Business 600 Orang Lebih Laksanakan Kegiatan Wisuda di UPI, Prof Didi Singgung Ijazah

Berita Daerah · 18 Mar 2026 11:51 WIB

Penentuan 1 Syawal 1447 H, Observatorium Bosscha ITB Sampaikan Informasi Astronomis


					Penentuan 1 Syawal 1447 H, Observatorium Bosscha ITB Sampaikan Informasi Astronomis Perbesar

BANDUNG – Observatorium Bosscha ITB menyampaikan informasi astronomis terkait posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, berada sangat dekat dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam.

Sebagai institusi pendidikan dan penelitian di bidang astronomi, Observatorium Bosscha ITB melaksanakan pengamatan bulan sabit muda hampir setiap bulan. Setiap tahunnya, Observatorium Bosscha pun menjadi salah satu rujukan untuk penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Syawal, bagi Kementerian Agama Republik Indonesia dan masyarakat umum.

Berdasarkan hasil perhitungan Observatorium Bosscha, data astronomis untuk 19 Maret 2026, yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi bulan berada sangat dekat dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam. Parameter geometri Bulan menunjukkan bahwa elongasi geosentrik (jarak sudut Bulan terhadap Matahari dilihat dari pusat Bumi) di wilayah Indonesia berkisar antara sekitar 4,6° hingga 6,2°, dari wilayah timur hingga barat. Sementara itu, elongasi toposentrik (jarak sudut Bulan terhadap Matahari dari sudut pandang pengamat di permukaan Bumi) berada pada kisaran sekitar 4,0° hingga 5,5°. Ketinggian Bulan saat Matahari terbenam juga relatif rendah. Peta ketinggian Bulan menunjukkan bahwa ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara 0° hingga 3° di atas ufuk di wilayah Indonesia bagian barat. Kondisi ini menandakan bahwa Bulan berada dekat dengan Matahari di langit barat dan berada pada ketinggian yang rendah di atas ufuk.

Baca Juga :  ITB Mewisuda 2.727 Jenjang Sarjana, Magister, dan Doktor, Ini Kata Prof Tata

Yatny Yulianty, M.Si. peneliti Observatorium Bosscha ITB, menjelaskan bahwa secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati. “Keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan yang digunakan,” ujarnya, dalam siaran persnya, Senin (16/3/2026).

Pengamatan Astronom Observatorium Bosscha di Dua Tempat

Untuk mendokumentasikan kondisi visibilitas hilal, astronom Observatorium Bosscha akan melaksanakan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di dua tempat, yakni Observatorium Bosscha, Lembang dan di Observatorium Lhok Nga, Aceh, yang didukung Kementerian Agama Republik Indonesia.

Baca Juga :  ITB Terima Sertifikat Verifikasi BNSP untuk LSP P1

Yatny, yang juga Koordinator Kegiatan Publik Divisi Pendidikan dan Penjangkauan Publik Observatorium Bosscha, mengatakan, Observatorium Lhok Nga dipilih karena parameter posisi Bulan di wilayah Aceh berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan, sehingga pengamatan di lokasi tersebut menjadi penting untuk memverifikasi kondisi batas (constraint) dari kriteria tersebut melalui pengamatan langsung. Kegiatan pengamatan ini juga merupakan bagian dari penelitian jangka panjang Observatorium Bosscha mengenai visibilitas hilal yang bertujuan untuk memperkaya basis data pengamatan bulan sabit muda di wilayah Indonesia.

Penentuan 1 Syawal 1447 H

Yatny menyampaikan bahwa penetapan awal bulan Hijriah penting, termasuk Syawal, tetap menjadi kewenangan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama dalam sidang isbat pada 19 Maret 2026. Namun, Observatorium Bosscha berperan menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian hilal sebagai masukan ilmiah yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

PT Jasa Raharja (Persero) Kanwil Utama Jawa Barat Salurkan Santunan Rp179,62 Miliar pada Semester I 2026

24 Juli 2026 - 08:10 WIB

Jasa Raharja Karawang Gelar Pelatihan PPGD di Kecamatan Telagasari untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan Penanganan Korban Kecelakaan

22 Juli 2026 - 08:44 WIB

Peningkatan Kesadaran Masyarakat terhadap Pajak Kendaraan Bermotor dan Keselamatan Lalu Lintas di Desa Santing Kecamatan Losarang

22 Juli 2026 - 08:34 WIB

Hari Kedua Operasi Gabungan, Jasa Raharja Bersama Tim Pembina Samsat Kota Tasikmalaya Intensifkan Kepatuhan Pajak Kendaraan di Bundaran Linggajaya

22 Juli 2026 - 08:07 WIB

Optimalisasi Pendapatan PKB dan SWDKLLJ, PJ Samsat Kota Banjar Laksanakan GASPOLL di Kelurahan Neglasari dan Balokang

22 Juli 2026 - 08:03 WIB

Jasa Raharja Cabang Tasikmalaya Gelar MUKL dengan Layanan Kesehatan Gratis bagi Kru PO Doa Ibu

22 Juli 2026 - 08:00 WIB

Trending di Berita Daerah