Melihat hal ini, lalu ditambah juga dengan adanya ideologi yang sama antara PDI Perjuangan dan Golkar, yaitu nasionalis berasaskan Pancasila. Maka dari itu, pihaknya ingin membuka peluang berkoalisi guna menyelesaikan permasalahan masyarakat di Jabar.
Khususnya ketimpangan pembangunan kata dia, antara kawasan utara dan selatan yang diharapkannya dapat segera diatasi. Termasuk menggenjot potensi, salah satunya BIJB Kertajati di Kabupaten Majalengka.
“Ini yang harus kita lakukan bersama-sama dan tentu kita berharap terpilihnya gubernur dan wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota dapat menyelesaikan segala permasalahan di Jabar,” harapnya.
Lebih jauh Ono menegaskan, PDI Perjuangan akan lebih fleksibel memasang kadernya dalam Pilgub Jabar, kendati memiliki daya tawar cukup baik dengan modal 17 kursi di DPRD tingkat provinsi.
“PDI Perjuangan akan fleksibel dan tidak saklek untuk memasang kadernya menjadi cagub Jabar. Bisa di nomor 1 atau 2,” terangnya.
Sementara Ketua Partai Golkar Jabar TB Ace Hasan Syadzily mengatakan, pihaknya menyambut baik silaturahmi politik yang dilakukan jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan Jabar.
Terlebih kata Ace, pada Pilpres 14 Februari lalu, PDI Perjuangan dan Partai Golkar berseberangan lantaran berbeda pilihan.
“Alhamdulillah setelah bersaing pada Pilpres, sekarang kami bisa bersanding. Ini merupakan kunjungan kehormatan bagi Partai Golkar,” ungkap Ace.
Dia menambahkan, komunikasi antar partai politik sangat penting, apalagi demi kemajuan Jawa Barat. Terlebih bagi Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang memiliki platform kebangsaan yang sama.


























