Sementara Kepala Dinas ESDM Jabar Ai Saadiyah Dwidaningsih menambahkan, biaya pembangunan PLTS atap yang dibangun di sekolah, tiap unitnya membutuhkan biaya antara Rp700 juta hingga Rp1 miliar.
Itu pun bisa lebih, bergantung dari kapasitas watt yang dihasilkan dari PLTS atap. Dari tujuh sekolah tersebut, sekitar Rp5-6 miliar telah diinvestasikan Pemprov Jabar melalui APBD untuk pembangunannya.
Terlepas dari itu, dia berharap setidaknya dari tujuh PLTS atap yang telah dibangun melalui APBD Pemprov Jabar, dapat menjadi stimulus mengakselerasi energi bersih di masa mendatang.
“Ini merupakan trigger dan simulasi. Stimulus ke depan, dengan mekanisme pembiayaan lebih luas. Ini tidak hanya bergantung dari APBD provinsi, tapi kita akan membuka terkait pembiayaan lain,” terangnya.
Sebab itu, diharapkan melalui West Java Energy Forum (WJEF) 2024 diharapkan mampu memantik minat investor, dalam membangun PLTS atap, khususnya di sekolah.
Terlebih saat ini, berkat bantuan dari British Embassy kata dia, sudah ada 173 sekolah yang siap, usai mengantongi pra feasibility study (FS) pembangunan PLTS atap.
“Target di sekolah, karena strategis sekali bahwa di sekolah bisa jadi sarana edukasi, sosialisasi karena mereka akan jadi calon pemimpin, jadi harus memiliki awareness transasi energi ini,” paparnya.

























