Terpisah, Ketua Satgas Pengelolaan Sampah Terpadu Bandung Raya Dedi Taufik memaparkan, TPS3R Ence Aziz diharapkan mampu mengatasi masalah sampah di kawasan Andir.
“Kita upskill mesin gibrik ini kapasitasnya. Selama ini baru memenuhi enam ton, empat ton masih dibuang ke Sarimukti. Kalau ada upskill jadi 10 ton, bisa selesai disini,” tuturnya.
Selain TPS3R Ence Aziz, TPS3R Babakan Siliwangi diakuinya sudah mumpuni karena sudah memiliki dua line mesin gibrik dan satu mesin pengolahan RDF.
“Itu kapasitas 10 ton, satu line. Berarti Baksil bisa memenuhi 20 ton. Tapi yang sudah dipilah, masuk kesana. Kalau seandainya itu di upskill tambahan jadi tiga line. Maka bisa mengakomodir pembuangan sampah banyak kawasan seperti Cibeunying, Tamansari, Coblong dan Setiabudhi,” ungkapnya.
Hanya saja hal tersebut diakuinya tidak mudah, karena butuh biaya cukup besar. Dimana satu line atau mesin, berikut kebutuhan lainnya, memakan biaya sekitar Rp3 miliar.
Maka dari itu pula lanjut Dedi, sementara dilakukan di Kota Bandung. Terlebih sejauh ini sumber sampah terbesar yang dibuang ke TPAS Sarimukti dari Kota Bandung.
“Tadi saja beberapa bulan lalu 1.500 ton. Ternyata sekarang naik jadi 1.800 ton. Jadi gimana pengolahan sampah di Kota Bandung ini, selain dibuang ke Sarimukti. Sisanya diolah di hulu, dengan dipasangnya mesin RDF,” ucapnya.
Dia pun berharap, empat TPS3R yang tengah dikembangkan ini sudah dapat beroperasi pada Agustus mendatang. Dimana kini tengah dilakukan revitalisasi bangunan, supaya bisa beroperasi lebih maksimal.
“Secepatnya, kita Agustus sudah bisa mulai operasi, karena beberapa direnovasi dulu gedungnya. Kita berharap selesai di Agustus, sudah bisa menerima untuk pengolahan melalui RDF,” harapnya.

























