Menu

Mode Gelap
Lewat Program CSR, Telkom Indonesia dan Telkom University Dorong Kemandirian Energi Desa Lewat Biodigester di Boyolali Anugerah Avirama Nawasena 2026 Soroti Praktik Nyata ESG dan Kepemimpinan Berkelanjutan Dies Natalis ke-22, SBM ITB Tegaskan Komitmen Pendidikan Bisnis Berdampak SBM ITB Luncurkan Thought Leadership: Entrepreneurial Business 600 Orang Lebih Laksanakan Kegiatan Wisuda di UPI, Prof Didi Singgung Ijazah

Berita Daerah · 30 Jan 2026 16:24 WIB

Longsor Cisarua, Begini Kata Dosen Bidang Ahli Geografi Fisik dengan Keahlian bidang kompetensi Mitigasi Bencana UPI


					Longsor Cisarua, Begini Kata Dosen Bidang Ahli Geografi Fisik dengan Keahlian bidang kompetensi Mitigasi Bencana UPI Perbesar

BANDUNG – Bencana longsor yang melanda kawasanCisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, merupakan fenomena alam yang dipicu terutama oleh karakteristik fisik wilayah. Namun, dampaknya berubah menjadibencana besar karena bersinggungan langsung dengan aktivitasdan permukiman manusia di zona rawan.

Hal tersebut disampaikan oleh Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc., Dosen Bidang Ahli Geografi Fisik dengan keahlian bidangkompetensi Mitigasi Bencana di Prodi Survey Pemetaan danInformasi Geografis (SPIG) Fakultas Pendidikan IlmuPengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam tanggapannya terkait longsor di Cisarua, KabupatenBandung Barat dari perspektif Geografi Fisik dan kebencanaan, Jumat (30/10/2026).

Menurut Hendro, secara geomorfologis kawasan GunungBurangrang merupakan bagian dari bentang alam gunung apipurba Gunung Sunda, dengan relief terjal dan kemiringan lerengyang curam. Kondisi ini secara alami menjadikan wilayah tersebut memiliki potensi longsor yang tinggi.

“Kawasan Gunung Burangrang sampai dengan Cisarua memilikikarakter pelapukan batuan vulkanik stadium tua dengan faktorkelerengan yang curam, kondisi tanah yang relative tebal, dan curah  hujan yang tinggi. Secara alamiah, potensi longsor di wilayah dengan karakteristik ini memang besar,” jelasnya.

Faktor Alam Jadi Pemicu Utama

Hendro menegaskan bahwa longsor yang terjadi di kawasanGunung Burangrang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi kemiringan lereng, curahhujan yang tinggi dan berlangsung terus-menerus, relief polapengaliran air dari hulu, dan jenis penggunaan lahannya. Sementara faktor internal berkaitan dengan kondisi geologilapisan batuan, ketebalan tanah hasil pelapukan vulkanik, sertakeberadaan bidang gelincir di bawah permukaan tanah.

Ketika air hujan meresap dan terakumulasi di atas lapisanimpermeabel yang tidak tembus air, maka gaya gesek tanah dan material lapukan batuan menurun drastis sehingga massa tanahmudah meluruh ke bawah.

Baca Juga :  Jawa Barat Hibahkan Sistem Merit Kepegawaian kepada Pemkab Sijunjung

“Curah hujan yang tinggi secara terus-menerus membuat bidanggelincir menjadi licin dan tidak stabil,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa alih fungsi lahan memang berperan, tetapi bukan merupakan faktor dominan dalam kasus longsorCisarua, karena titik awal longsoran (mahkota longsor) berada di bagian atas Gunung Burangrang, bukan di daerah lereng kaki.

Longsor Tidak Selalu Jadi Bencana

Hendro menjelaskan bahwa longsor sebagai fenomena alamdapat terjadi di mana saja, termasuk di kawasan hutan yang tidak berpenghuni. Longsor baru disebut bencana ketikamenimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan manusia, seperti korban jiwa, kehilangan harta benda, kerusakan rumah, dan mata pencaharian.

“Fenomena longsor itu alamiah. Yang menjadi masalah adalahketika longsor tersebut berdampak pada kehidupan manusia,” tegasnya.

Pemetaan Kebencanaan Sangat Penting untukDilakukan

Menurut Hendro, secara ilmiah zona rawan longsor sangat bisadiidentifikasi melalui survei karakteristik biogeofisik, dan pemetaan kebencanaan berbasis data geospasial dengan Teknik Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Bahkan, pemetaan kebencanaan dapat dilakukan denganberbagai skala sebagai dasar penting dalam perencanaan tata ruang wilayah dan penentuan kebijakan.

Ia mengungkapkan bahwa mahasiswa Program Studi SurveiPemetaan dan Informasi Geografis SPIG UPI telah bekerja samadengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Bandung Barat dalam penyusunan peta potensi multi bencana, termasuk longsor.

“Pemetaan itu adalah dasar kebijakan. Dari sana bisa ditentukanwilayah mana yang aman untuk permukiman dan mana yang seharusnya dibatasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Jasa Raharja Karawang Turut Hadir Acara Pelapasan Peserta Mudik Gratis Tahun 2025

SIG, lanjut Hendro, memungkinkan identifikasi zona bahaya, jalur longsor, jalur evakuasi, lokasi pengungsian, hinggaprioritas penanganan wilayah pada zona kepadatan penduduktinggi.

Mitigasi Harus Komprehensif

Hendro menekankan bahwa penanganan bencana tidak bolehberhenti pada fase tanggap darurat. Mitigasi harus dilakukansecara komprehensif, mencakup tahap pra-bencana, saatbencana, dan pasca-bencana.

Mitigasi struktural seperti pembuatan penahan longsor, terasering, revegetasi dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat perlu dibarengi dengan mitigasi non-struktural melaluiedukasi, sosialisasi, simulasi bencana, dan peningkatan kapasitasmasyarakat.

“Yang paling penting adalah meningkatkan kapasitasmasyarakat agar tahu lokasi, tahu kondisi, tahu posisi, dan tahumitigasi bencana,” jelasnya.

Evaluasi Tata Ruang dan Rehabilitasi Lahan

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi tata ruang secara tegas. Wilayah yang secara kajian ilmiah dinyatakan berisiko tinggiseharusnya tidak dijadikan permukiman. Jika kawasan tersebutmerupakan lahan kehutanan atau milik negara, maka perludikembalikan ke fungsi lindung kawasannya. Pada Kawasan penyangga dapat dikelola dengan pendekatan agroforestri yang ramah lingkungan.

Terkait rencana rehabilitasi dengan penanaman bambu dan tanaman keras, Hendro menilai kebijakan tersebut dapatdilakukan dengan mempertimbangkan hasil kajian pemilihanjenis vegetasi agar tidak justru menambah beban lereng.

“Vegetasi harus mampu menahan tanah, tetapi tidak bolehmembebani lereng secara berlebihan,” ujarnya.

Penutup

Hendro mengingatkan bahwa bencana longsor Cisarua tidakdapat disederhanakan sebagai kesalahan satu pihak. Diperlukankajian ilmiah yang jujur dan komprehensif agar kejadian serupatidak terulang di masa depan.

“Jangan saling menyalahkan. Ini bencana. Yang terpentingadalah manajemen bencana yang baik agar risiko bencana di masa depan bisa dikurangi,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Rektor IPDN Sebut Para Praja Siap Hadapi Aneka Tantangan Globalisasi

16 April 2026 - 16:29 WIB

Job Fair Universitas Widyatama Sukses Hadirkan Ribuan Pengunjung dalam Dua Hari

16 April 2026 - 12:45 WIB

Jasa Raharja Indramayu Masifkan Sosialisasi Gebyar Apresiasi Kepatuhan Wajib Pajak 2026

16 April 2026 - 08:25 WIB

Gerak Cepat, Jasa Raharja Kanwil Jawa Barat Serahkan Santunan kepada Ahli Waris Korban Kecelakaan di Kecamatan Rancabali

16 April 2026 - 07:36 WIB

Jasa Raharja Jawa Barat Lakukan Survey Ahli Waris Korban Laka Lantas di Nagreg

16 April 2026 - 07:33 WIB

Peningkatan Kesiapsiagaan Masyarakat, Pelatihan Pertolongan Gawat Darurat Digelar di Desa Wadas

15 April 2026 - 08:42 WIB

Trending di Berita Daerah