Menu

Mode Gelap
Lewat Program CSR, Telkom Indonesia dan Telkom University Dorong Kemandirian Energi Desa Lewat Biodigester di Boyolali Anugerah Avirama Nawasena 2026 Soroti Praktik Nyata ESG dan Kepemimpinan Berkelanjutan Dies Natalis ke-22, SBM ITB Tegaskan Komitmen Pendidikan Bisnis Berdampak SBM ITB Luncurkan Thought Leadership: Entrepreneurial Business 600 Orang Lebih Laksanakan Kegiatan Wisuda di UPI, Prof Didi Singgung Ijazah

Pendidikan · 28 Jul 2026 16:13 WIB

Film Dokumenter Harmoni di Lembah Grime Karya Dosen ISBI Bandung Meriahkan BAF 2026


					Film Dokumenter Harmoni di Lembah Grime Karya Dosen ISBI Bandung Meriahkan BAF 2026 Perbesar

BANDUNGBandung Art Festival (BAF) 2026 yang berlangsung pada 20–26 Juli 2026 di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung menjadi ruang apresiasi bagi berbagaikarya seni yang lahir dari praktik kreatif, penelitian, dan kolaborasi lintas disiplin. Festival ini menghadirkan berskalaInternasional beragam karya seni rupa, pertunjukan, film, fotografi, hingga media baru sebagai bagian dari upayamemperkuat ekosistem seni dan budaya di Kota Bandung.

Salah satu karya yang turut dipamerkan dalam festival ini adalahfilm dokumenter Harmoni di Lembah Grime, karya Dara Bunga Rembulan, dosen Program Studi Televisi dan Film Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sekaligus mahasiswa Program Doktor ISBI Bandung.

Film dokumenter ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), komunitas masyarakat adat di Lembah Grime, serta Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi antaralembaga, akademisi, dan masyarakat adat dalammendokumentasikan pengetahuan lokal, nilai-nilai budaya, sertakehidupan masyarakat adat Papua melalui pendekatan sinematikyang berorientasi pada pelestarian budaya dan penguatanidentitas masyarakat adat.

Melalui kerja sama tersebut, proses penciptaan film tidak hanyaberorientasi pada produksi karya audiovisual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun dokumentasi budayayang berkelanjutan, memperkuat representasi masyarakat adatmelalui perspektif mereka sendiri, sekaligus menghadirkanruang dialog antara masyarakat adat, akademisi, dan publik.

Baca Juga :  LSF Dorong Literasi Sensor Mandiri untuk Keluarga

Harmoni di Lembah Grime mengangkat kehidupan masyarakatadat di Lembah Grime, Papua, dengan menampilkan hubungan harmonis antara manusia, alam, adat, dan spiritualitas sebagaifondasi kehidupan masyarakat setempat. Film ini mengajak penonton memahami Papua dari sudut pandang masyarakatnya sendiri, bukan sekadar sebagai wilayah geografis, tetapi sebagairuang hidup yang kaya akan nilai budaya, kearifan lokal, dan filosofi kehidupan.

Sejak diproduksi, Harmoni di Lembah Grime telah memperolehberbagai apresiasi dan diputar dalam sejumlah festival sertaforum perfilman dan kebudayaan, baik di tingkat nasionalmaupun internasional. Berbagai penghargaan dan kesempatanpemutaran tersebut menunjukkan bahwa cerita-cerita lokalIndonesia memiliki daya jangkau yang luas ketika disampaikanmelalui bahasa sinema yang kuat, autentik, dan humanis.

Keikutsertaan Film ,Dara Bunga Rembulan mengatakan Bandung Art Festival merupakan bagian dari komitmen untuk memperluas ruang apresiasi terhadap film dokumenter sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakatyang lebih luas.

“Harapan kami, semakin banyak film ini dipamerkan dan diputar di berbagai festival maupun ruang-ruang kebudayaan, semakin banyak pula masyarakat yang memperoleh wawasandan pengetahuan mengenai Papua. Film dokumenter bukanhanya menjadi media tontonan, tetapi juga media pembelajaran, pelestarian budaya, dan penguatan dialog antarkebudayaan,” papar Dara.

Dara menjelaskan bahwa visi penyutradaraan dalam Harmoni di Lembah Grime berangkat dari pengalamanlangsung bersama masyarakat adat selama proses riset dan produksi film.

Baca Juga :  R.Y. Adam Panji Purnama Tampilkan Seri Fotografi Kontemplatif "H'NANG, H'NING, H'NUNG, dan H'NENG" pada BAF #12

“Apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, dan apa yang sayarasakan selama berada di Lembah Grime, kami berharap dapatdiapresiasi dan dirasakan dengan cara yang sama oleh para penonton. Melalui bahasa visual, suara, dan pengalaman sinematik, film ini menjadi jembatan yang menghadirkan pengalaman masyarakat adat kepada publik secara lebih dekat, jujur, dan penuh empati,” kata Dara.

Partisipasi Harmoni di Lembah Grime dalam Bandung Art Festival 2026 juga mencerminkan kontribusi sivitas akademikaISBI Bandung dalam mengembangkan film dokumenter berbasisriset, praktik artistik, dan kolaborasi dengan masyarakat. Kehadiran film ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggimemiliki peran strategis dalam menghasilkan karya seni yang tidak hanya memiliki kualitas estetika, tetapi juga memberidampak sosial, memperkuat pelestarian budaya, serta menjadimedium diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat nasionalmaupun internasional.

Melalui Bandung Art Festival 2026, diharapkan semakin banyakruang apresiasi yang membuka pertemuan antara seniman, akademisi, komunitas, dan masyarakat luas. Dengan demikian, karya-karya seperti Harmoni di Lembah Grime dapat terushidup, berdialog dengan publik, serta menginspirasi lahirnyakolaborasi-kolaborasi baru dalam upaya menjaga keberagamanbudaya Indonesia melalui medium seni dan film dokumenter.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

R.Y. Adam Panji Purnama Tampilkan Seri Fotografi Kontemplatif “H’NANG, H’NING, H’NUNG, dan H’NENG” pada BAF #12

28 Juli 2026 - 17:21 WIB

1.404 Praja IPDN Diwisuda, Mendagri: Banyak Kepala Daerah Berebut Lulusan

26 Juli 2026 - 18:21 WIB

Rektor UPI: Karakter Dosen yang Baik Berdampak pada Mahasiswa

22 Juli 2026 - 14:00 WIB

Rektor UPI: Alumni Harus Berintegritas, Dipercaya, dan Mampu Menyelesaikan Masalah

21 Juli 2026 - 13:11 WIB

Prodi Ilkom FISIP Unpas Gelar Pelatihan Literasi Digital untuk Cegah Cyber Bullying di Madrasah Karya Madani

20 Juli 2026 - 15:23 WIB

RS Maranatha Perkuat Peran sebagai Rumah Sakit Pendidikan melalui PPDS Obstetri dan Ginekologi

18 Juli 2026 - 17:15 WIB

Trending di Berita Daerah