BANDUNG – Bandung kembali menegaskan identitasnya sebagai kota kreatif yang menjadikan seni sebagai bahasa untuk bercerita. Mengusung semangat.
“Kalau satu kota bisa bercerita lewat seni dan karya, Bandung adalah salah satunya!”, Bandung Arts Festival #12 menghadirkan beragam ekspresi seni yang mempertemukan seniman, komunitas, akademisi, dan pegiat budaya dari Indonesia hingga berbagai negara di Asia dan Eropa.
Sebagai kota yang menyandang predikat UNESCO Creative City of Design, Bandung kembali merayakan keberagaman karya seni melalui pameran seni rupa, instalasi, fotografi, batik, film, teater, musik, workshop, serta pertunjukan budaya. Salah satu agenda utama festival adalah Tari Kolosal “Ngabatik”, perpaduan tari, musik, dan filosofi membatik sebagai representasi warisan budaya Indonesia.
Seluruh rangkaian kegiatan dapat dinikmati masyarakat secara gratis (Free Entry).
Di tengah rangkaian festival tersebut, film pendek JanteArkidam hadir sebagai bagian dari Exhibition Film Bandung Arts Festival #12 yang berlangsung di Gedung Pusat Kebudayaan Bandung pada 20–26 Juli 2026.
Film Berbasis Riset Penciptaan
Jante Arkidam merupakan film pendek hasil riset penciptaan (research creation) yang mengangkat proses ekranisasi puisi Jante Arkidam karya Ajip Rosidi (versi bahasa Sunda, 1956) ke dalam medium sinema. Film ini tidak memindahkan puisi secara harfiah ke layar, melainkan menghadirkan sebuah reinterpretasi sinematik yang menerjemahkan makna, simbol, dan semangat puisi melalui bahasa visual.
Dalam interpretasi tersebut, tokoh Jante Arkidamdimaknai sebagai manifestasi semangat perlawanan rakyat terhadap kekuasaan kolonial. Adegan penjarahan Pegadaian diposisikan sebagai simbol pengambilalihan kembali kekayaan yang berada dalam kendali pemerintah kolonial Belanda, sedangkan penggunaan hasil rampasan di arena ronggeng dimaknai sebagai metafora pembangkangan terhadap tatanan kolonial. Konflik dengan aparat kepolisian dalam film merepresentasikan perlawanan terhadap antek-antek penjajah yang menjadi instrumen kekuasaan kolonial.
Melalui pendekatan tersebut, film ini mengajak penonton membaca kembali karya sastra Sunda dalam perspektif sejarah, identitas budaya, dan ekspresi sinema kontemporer.
Kolaborasi Akademik dan Komunitas Budaya
Film Jante Arkidam menjadi contoh nyata kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas budaya dalam menghasilkan karya seni berbasis penelitian.
Seluruh proses produksi film dikerjakan oleh Dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Budaya dan Media, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, mulai dari penyutradaraan, sinematografi, tata artistik, tata suara, hingga manajemen produksi.
Tim produksi dipimpin oleh Apip Rea sebagai penulis skenario sekaligus sutradara, didukung oleh kru mahasiswa ISBI Bandung yang mengisi berbagai posisi kreatif dalam produksi film.
Sementara itu, seluruh unsur pertunjukan budaya dalam film—meliputi para pemeran, penari tradisional, penabuh gamelan, serta pendukung artistik—berasal dari Yayasan Pakalangan, sebuah komunitas seni yang selama ini aktif dalam pelestarian seni dan budaya Sunda. Kehadiran Yayasan Pakalangan memberikan kekuatan artistik sekaligus autentisitas budaya dalam proses penciptaan film.
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan tinggi seni dan komunitas budaya dapat saling memperkuat dalam menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga nilai edukatif, penelitian, dan pelestarian budaya.
Pernyataan Sutradara
Menurut Apip Rea, peneliti sekaligus sutradara film Jante Arkidam, karya ini merupakan upaya menghadirkan kembali sastra Sunda melalui bahasa sinema.
“Film ini bukan sekadar adaptasi puisi ke dalam medium sinema. Jante Arkidam merupakan hasil riset penciptaan yang mempertemukan sastra, sejarah, pendidikan seni, dan komunitas budaya. Melalui kolaborasi mahasiswa ISBI Bandung bersama Yayasan Pakalangan, kami ingin menunjukkan bahwa penelitian artistik dapat melahirkan karya yang hidup di ruang publik sekaligus memperkuat pelestarian budaya Sunda.”
Seni, Riset, dan Pelestarian Budaya
Keikutsertaan Jante Arkidam dalam Bandung ArtsFestival #12 menunjukkan bahwa penelitian artistik memiliki ruang strategis dalam ekosistem industri kreatif. Film ini membuktikan bahwa karya berbasis riset tidak berhenti sebagai luaran akademik, melainkan dapat hadir sebagai media apresiasi publik, diplomasi budaya, sekaligus sarana pelestarian sastra dan tradisi lokal.
Melalui partisipasinya dalam festival ini, Jante Arkidamdiharapkan mampu memperluas apresiasi masyarakat terhadap karya sastra Ajip Rosidi, memperkenalkan pendekatan ekranisasi sebagai praktik kreatif dalam sinema Indonesia, serta memperkuat posisi budaya Sunda sebagai sumber inspirasi penciptaan karya audiovisual kontemporer.
Tentang Film
Judul : Jante Arkidam
Bentuk Karya : Film Pendek Fiksi (Visual Interpretation ofthe Poem)
Sumber Adaptasi : Puisi Jante Arkidam karya Ajip Rosidi (Bahasa Sunda, 1956)
Penulis Skenario & Sutradara : Apip Rea
Produksi : Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Budaya dan Media, ISBI Bandung bekerja sama dengan Yayasan Pakalangan. Tim inti produksi dan kolaborator tercantum dalam kredit produksi film































