Jakarta — Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menegaskan bahwa pengabdian santri kepada bangsa tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan dan dakwah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam momentum Munajat Santri untuk Negeri yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026) malam, sebagai puncak rangkaian peringatan Hari Santri 2026.
Kegiatan yang mempertemukan ribuan santri, kiai, pengasuh pesantren, dan tokoh agama tersebut menjadi ruang memperkuat ikhtiar spiritual sekaligus solidaritas sosial terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.
Basnang menjelaskan bahwa munajat merupakan salah satu manifestasi nilai pendidikan pesantren yang menempatkan hubungan spiritual dengan Allah Swt. dan tanggung jawab kemanusiaan sebagai dua hal yang saling berkaitan.
“Munajat Santri untuk Negeri adalah doa santri untuk kebaikan negeri ini, sekaligus juga merupakan perwujudan bakti santri untuk negeri. Santri ingin menghadirkan doa-doa terbaik agar Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kedamaian, dan keberkahan,” ujar Basnang.
Menurutnya, keterlibatan santri dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pesantren memiliki ikatan yang kuat dengan kehidupan bangsa. Santri tidak hanya dididik untuk memahami ilmu agama, tetapi juga dibekali nilai kepedulian, solidaritas, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren yang selama ini mengajarkan keseimbangan antara penguatan spiritual, pembentukan akhlak, dan pengabdian sosial.
Santri Bermunajat untuk Masyarakat Terdampak Karhutla
Basnang secara khusus menyampaikan bahwa Munajat Santri untuk Negeri juga menjadi bentuk empati terhadap masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.



























