Bandung – Dalam rangkaian International Conference on Management in Emerging Markets (ICMEM) 2025, salah satu sesi penting yang mendapat perhatian besar adalah topik “Leading with Purpose: Driving Sustainable Change in a Rapidly Evolving World.”
Sesi ini menyoroti bagaimana kepemimpinan yang berlandaskan pada purpose (tujuan) menjadi kunci menghadapi kompleksitas dunia yang kian dinamis, sehingga terjadi perubahan yang berkelanjutan.
Prof Hazel Gruenewald bersama Dr.Veronica Afridita Khristiningrum menjelaskan bahwa tantangan utama pemimpin saat ini berada pada dunia yang ditandai oleh banyaknya perubahan yang kompleksitas dan tidak menentu, atau lebih dikenal dengan istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity).
Dalam kondisi tersebut, seorang pemimpin tidak cukup hanya memikirkan jangka pendek, tetapi juga harus memiliki pandangan strategis jangka panjang dalam menghadapi sebuah permasalahan, serta selalu adaptif dalam menghadapinya. Pada 2025, kepemimpinan menghadapi tantangan sekaligus peluang melalui tiga aspek utama: agility and resilience (kelincahan dan ketangguhan), strategic balance (keseimbangan strategis), dan digital integration (integrasi digital).
“Purpose tidak hanya sekadar slogan di dinding kantor atau kalimat di laman website. Lebih dari itu, purpose mengartikan arah, guidance, sebagai kompas yang memberikan arah dalam pengambilan keputusan ketika dihadapkan pada berbagai prioritas yang saling bertentangan,” ungkap Prof. Hazel
Keberlanjutan kepemimpinan yang berlandaskan purpose berarti bertindak secara sadar, dengan niat yang jelas, serta fokus pada tujuan jangka panjang yang bermakna. Studi yang dikutip menunjukkan bahwa organisasi dengan tujuan yang jelas mampu mengungguli pasar hingga 15 kali lipat dan kinerjanya 60 kali lebih baik dibandingkan para pesaingnya.
Prof. Hazel juga menegaskan bahwa purpose-driven leadership melampaui pola kepemimpinan yang reaktif. Kepemimpinan ini menuntut refleksi diri, keseimbangan antara tuntutan operasional dan visi masa depan, serta kemampuan menjaga koneksi manusiawi di tengah deras dan maraknya digitalisasi.
Dr. Veronica menyoroti konsep ambidextrous leadership, sebuah kemampuan pemimpin untuk menyeimbangkan eksploitasi (mengoptimalkan kemampuan inti yang ada) dan eksplorasi (menciptakan inovasi baru).
Dalam hal ini, pemimpin perlu menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan, mengelola kebutuhan saat ini sekaligus mempersiapkan masa depan.
“Pemimpin modern perlu menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan, mengelola kebutuhan saat ini sembari mempersiapkan masa depan,” jelas Dr. Veronica
Dalam praktik ambidextrous leadership ini, terdapat tiga bentuk inovasi yang relevan, yaitu Incremental innovation, sebuah peningkatan bertahap dan berkesinambungan. Lalu, architectural innovation, sebuah langkah aktif solutif yang berbasis inovasi pada desain atau penciptaan struktur bisnis. Kemudian, yang terakhir yaitu terkait discontinuous innovation dimana adanya inovasi radikal yang selalu mengubah lanskap industri.
Selain itu, seorang leader juga harus bisa mengatur organisasinya dalam menyesuaikan strukturnya, baik itu model mekanistik atau organic. Dalam paparan yang disampaikan, organisasi dengan struktur mekanistik cocok untuk sektor stabil seperti keuangan dan kesehatan, sedangkan struktur organik dibutuhkan pada sektor dinamis atau yang adaptif terhadap perubahan, seperti teknologi dan industri kreatif. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan terhadap organisasi yang menerapkan ambidexterity melalui struktural separation, behavioural integration, sequential alteration.
Sehubungan dengan hal tersebut, organisasi perlu menentukan strateginya berdasarkan dua kategori, yaitu scope dan intensity. Prof. Hazel menekankan bahwa seorang pemimpin harus mempertimbangkan strategi yang akan dipakai dalam organisasinya dengan memperhatikan perubahan pada organizational context, capabilities, and desired outcomes.
Selain itu, Prof Hazel mengingatkan bahwa pemimpin harus memahami tiga dimensi perubahan, yaitu speed (kecepatan), scope (cakupan), dan significance (signifikansi). Setiap dimensi punya keunggulan masing-masing, sehingga effective leaders harus bisa memprioritaskan keputusan terhadap greatest strategic impact. Hal itu berarti bahwa efektivitas pemimpin ditentukan oleh kemampuannya menghindari busy trap, terlihat sibuk namun tidak menghasilkan dampak strategis.
Untuk membantu pemimpin lebih sadar akan hal-hal yang bisa mereka kendalikan, Dr. Veronica menjelaskan 6 tools yang bisa membantu seorang leader untuk sadar serta efektif terhadap hal-hal yang bisa dikendalikan, meliputi:
Lift your head (membangun perspektif reflektif),
Review priorities (meninjau prioritas),
Make conscious decisions (membuat keputusan sadar),
Think ahead (berpikir jauh ke depan),
Show presence (hadir dan membangun keterhubungan nyata),
Create legacy (menciptakan warisan kepemimpinan).
Perubahan selalu membawa ancaman sekaligus peluang. Untuk mengelola keduanya, Prof. Hazel memperkenalkan dua konsep penting.
Pertama, gaya kepemimpinan PEAI (Producer, Entrepreneur, Administrator, Integrator). Umumnya pemimpin didominasi oleh satu hingga dua gaya, tetapi kombinasi keempatnya akan menghasilkan arah organisasi yang lebih efektif.
Kedua, titik optimal dalam eksekusi keputusan yang disebut CAPI (authority, power, influence). Konsep ini menekankan keseimbangan antara kapasitas pemimpin dengan kebutuhan tugas. Prof. Hazel menjelaskan konsep CAPI dalam suatu circle dan rectangle sebagai task. Dia menjelaskan dalam suatu konsep case study, yaitu
jika CAPI > Task, maka pemimpin terlalu otoritas, kekuasaan, atau pengaruh dibandingkan kebutuhan tugas, sehingga hal tersebut akan memunculkan micromanagement dan inefisiensi
Jika CAPI < Task, maka pemimpin kurang otoritas, kekuasaan, atau pengaruh dalam menyelesaikan tugas, sehingga hal tersebut mengakibatkan berhentinya inisiatif, keputusan tidak diimplementasikan
Jika CAPI = Task, maka kapasitas pemimpin tersebut seimbang dengan kebutuhan tugas, sehingga hasil eksekusinya terbilang efektif dan lancar. Hal ini merupakan suatu kondisi ideal bagi organisasi
Leading with purpose menemukan pijakan kuat untuk menciptakan masa depan berkelanjutan dengan membuka perubahan, menghasilkan dampak nyata, dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif.
Pesan penting dari sesi ini adalah bahwa kepemimpinan dengan purpose menciptakan nilai nyata, meningkatkan keterlibatan karyawan hingga 30% lebih tinggi, serta mendorong tingkat inovasi 25% lebih besar. “Kepemimpinan bukan hanya soal mengelola hari ini, melainkan meninggalkan warisan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkas Dr. Veronica.




























