Awaluddin menjelaskan bahwa transformasi digital Jasa Raharja bertumpu pada integrasi proses bisnis, data, layanan, dan pengambilan keputusan. Fondasi teknologinya mencakup aplikasi inti untuk proses dan manajemen klaim, platform data, analitik, serta infrastruktur dan keamanan digital. Sistem tersebut menghubungkan Jasa Raharja dengan berbagai mitra, termasuk kepolisian, rumah sakit, Samsat, lembaga keuangan, dan instansi terkait.
Inovasi yang berjalan mencakup layanan digital melalui JR Care, JR Connect, dan MyJasfren, otomatisasi proses internal, serta penggunaan artificial intelligence (AI) untuk membantu verifikasi dokumen dan analisis data. AI juga dimanfaatkan dalam sejumlah proses, antara lain pemeriksaan dokumen pengajuan santunan dan prediksi penerimaan sumbangan wajib. Implementasinya dilakukan bertahap dengan pengendalian akses, perlindungan data, pemantauan, dan tata kelola sebagai bagian dari pengembangan.
Capaian hingga 2026 menunjukan perluasan akses layanan digital, validasi data Samsat yang menggunakan bantuan AI, serta pemanfaatan dasbor untuk memantau kinerja operasional. Dampak yang dituju adalah proses yang lebih efisien, keputusan yang lebih berbasis data, dan layanan yang makin mudah diakses. Roadmap 2026-2030 disusun bertahap, untuk memperkuat fondasi dan integrasi, meningkatkan kapabilitas analitik, lalu mengembangkan transformasi adaptif untuk mendukung pelayanan prima.
“Ukuran keberhasilan digitalisasi bukan hanya pada sistem yang dibangun, melainkan pada kemudahan masyarakat saat mengakses layanan dan kepastian saat membutuhkan bantuan. Karena itu, kami akan terus memperkuat integrasi, keamanan, dan kualitas proses agar perlindungan dapat diberikan secara tepat,” kata Awaluddin.




























