Bencana tersebut menjadi perhatian bersama karena tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial, kesehatan, serta aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
“Munajat ini juga menjadi bentuk empati santri atas karhutla yang terjadi di berbagai tempat di Kalimantan dan Sumatra. Kami mendoakan agar musibah ini segera teratasi dan saudara-saudara kita yang terdampak diberi kekuatan, kesehatan, dan kemudahan,” katanya.
Menurut Basnang, kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai kemanusiaan yang harus terus ditanamkan dalam kehidupan pesantren.
Tradisi doa bersama yang hidup di lingkungan pesantren tidak hanya mencerminkan kedekatan spiritual, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya saling membantu dan menjaga kehidupan bersama.
Kepedulian tersebut perlu berjalan beriringan dengan langkah nyata dalam membangun kesadaran lingkungan, memperkuat solidaritas, dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks ini, pendidikan pesantren memiliki ruang yang luas untuk menanamkan tanggung jawab ekologis, kesadaran sosial, serta kebiasaan menjaga lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama.
Perkuat Pesantren yang Peduli dan Berdaya Saing
Basnang menambahkan bahwa semangat pengabdian santri perlu terus dikembangkan sejalan dengan transformasi pendidikan pesantren.
Pesantren diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang memiliki kedalaman ilmu agama dan kematangan akhlak, tetapi juga generasi yang mampu memahami persoalan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaiannya.



























