“Sementara penyebab menurunnya angka kemiskinan di desil 4 atau kelompok rentan miskin adalah peningkatan pendapatan per kapita dari 132,3 juta per tahun menjadi 138,7 juta atau tumbuh 4% dan program peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat oleh Pemerintah Kudus melalui pelatihan kerja dan bantuan modal,” imbuh Hadi.
Hadi menjelaskan, tak hanya terkait kemiskinan, praja IPDN juga melakukan kegiatan sosialisasi pencegahan serta penanganan stunting di Posyandu Desa.
“Data stunting di Kabupaten Kudus tahun 2023 berjumlah 2.500 anak, lebih rendah dari tahun 2022 berjumlah 2.900 anak. Setelah dilakukan penimbangan dan intervensi serentak di bulan Juni 2024, data balita di Kabupaten Kudus menunjukan bahwa 3.666 anak pada kondisi underweight, 2.576 anak pada kondisi wasting, dan 2.491 anak pada kondisi stunting. Dengan demikian, stunting di Kabupaten Kudus sampai dengan bulan Juni 2024 berjumlah 2.491 anak, lebih kecil dibandingkan tahun 2023 berjumlah 2.500 anak,” ucapnya.
Menurut Hadi Prabowo, data-data tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bahan pengambilan kebijakan di Pemerintah Kabupaten Kudus dalam melakukan intervensi kebijakan penurunan kemiskinan dan stunting.
“Tentu kami berharap praja dapat mengaplikasikan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan empirik yang didapatkan ketika di lapangan tentang bagaimana praktik pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan pada lingkuppemerintah desa untuk bekal nantinya bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara di masa mendatang,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kab. Kudus, H. Masan, S.E., M.M yang juga turut hadir dalam upacara penutupan praktik magang I mengucapkan terima kasih kepada Rektor IPDN berserta jajaran yang telah mempercayakan Kabupaten Kudus sebagai lokasi pelaksanaan praktik magang.


























