“Semangat kebersamaan, menjadi kunci membangun Jawa Barat menjadi provinsi termaju dan berbudaya,” ucapnya.
Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman secara terpisah menambahkan, pihaknya merasa bersyukur karena pelaksanaan pemecahan rekor MURI berjalan lancar.
Sekda Herman berharap, dengan adanya inisiasi ini dapat memantik masyarakat Jabar juga nasional, untuk bersama-sama memasifkan sarung tenun Majalaya.
“Saya memakainya, ternyata memang lain. Sangat nyaman, apalagi harganya murah. Jadi saya anjurkan, untuk secepatnya membeli sarung tenun Majalaya beramai-ramai,” ungkapnya.
Selain itu, dia juga mendorong agar ada diversifikasi inovasi dari tenun Majalaya, guna membuka pasar secara lebih luas.
“Dimanfaatkan untuk blazer dan sebagainya, termasuk hiasan. Nanti kita coba create lagi kegiatan lainnya, baik di tingkat provinsi, kabupaten, kota,” imbuhnya.
Kepala Disperindag Jabar Noneng Komara Nengsih melanjutkan, momentum ini diharapkan mampu menstimulus industri tekstil saat ini.
“Mudah-mudahan menjadi titik balik, untuk berkembang lagi tekstil di Jawa Barat,” harapnya.
Terkait pemecahan rekor MURI ini, Noneng mengaku tidak menyangka dengan tingginya animo peserta. Dimana awalnya ditargetkan hanya diikuti 30 ribu peserta, akhirnya melonjak tajam menjadi 41 ribu peserta.
“Antusiasme ASN luar biasa untuk berperan aktif. Alhamdulillah menjadi 41 ribu dan rekor dunia,” ucapnya.
Mengenai dipilihnya sarung tenun Majalaya, karena merupakan bagian dari sejarah Jabar dan bahkan dulu pernah berjaya di masanya.
“Mudah-mudahan dengan sekarang ini, kita juga mengembalikan kejayaan sarung Majalaya,” tuturnya.



























