BANDUNG – Universitas Pendidikan Indonesia kembali mengukuhkan 14 guru besar guna memperkuat Tri Dharma perguruan tinggi. Pengukuhan ini menambah jumlah guru besar yang berada di angka 254 dari sekitar 1.600 dosen.
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof .Didi Sukyadi mengatakan, bertambahnya jumlah guru besar ini akan memberikan dampak yang luar biasa, baik dari sisi pengajaran, riset, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Di sisi lain tentu ini juga akan memperkuat posisi atau profil UPI di tingkat nasional maupun internasional, khususnya dari sisi pemeringkatan yang dianjurkan oleh pemerintah ataupun pemeringkatan yang lainnya,” ujarnya usai acara pengukuhan para guru besar di Kampus UPI, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, menurut Prof. Didi, para guru besar ini bakal memberikan dampak cukup signifikan bagi masyarakat. Pasalnya, masyarakat Tanah Air tengah membutuhkan pikiran-pikiran bijak serta cerdas dari para guru besar untuk menyelesaikan permasalahan yang ada saat ini.
“Katakanlah misalnya saat ini kita masih berputar di energi fosil. Kita menyaksikan sekarang terjadi peristiwa geopolitik yang luar biasa, krisis energi karena satu dan lain hal. Tentu saja salah satu jalan keluarnya adalah kita mencari energi alternatif diantaranya sel surya,” tuturnya.
Beruntung, perguruan tinggi negeri tersebut memiliki sosok guru besar yang menekuni pengembangan sel surya, yang bahan-bahannya tidak mencemari lingkungan. Hal itu lantaran bahan tersebut bisa didaur ulang dari material yang hidup bukan plastik atau metal.
“Tentu ini akan menjadi hal yang bermanfaat bukan hanya bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi juga masyarakat,” imbuhnya.
Tak hanya itu, lanjut Prof. Didi, para guru besar ini pun dapat menyumbangkan pemikiran mereka guna memecahkan persoalan sampah di Kota Bandung khususnya. Ia menilai masalah sampah itu masih menjadi hal yang terus menghantui karena masyarakat belum terbiasa mengolah sampah secara baik.
“Dengan adanya pikiran dari para guru besar tentang bagaimana mengolah sampah tentu akan memberikan dampak yang sangat besar di masyarakat,” ucapnya.
Didi mengklaim UPI sudah memiliki guru besar yang jumlahnya ideal atau diatas 10 persen, bahkan pihaknya mempunyai profesor termuda yang usianya saat ini 35 tahun. Kampusnya sengaja mendorong munculnya profesor-profesor muda agar riset yang dilakukan semakin banyak dan memberikan dampak luar biasa ditengah masyarakat.
“Jadi kita dorong dari mulai dosen, lektor, lektor kepala, dan nanti guru besar pun ya usianya masih muda, sehingga produktivitasnya masih bisa kita rasakan. Dampaknya bagi masyarakat juga akan semakin dirasakan, karena risetnya dimulai sejak beliau masih muda,” pungkasnya.



























