Menu

Mode Gelap
Lewat Program CSR, Telkom Indonesia dan Telkom University Dorong Kemandirian Energi Desa Lewat Biodigester di Boyolali Anugerah Avirama Nawasena 2026 Soroti Praktik Nyata ESG dan Kepemimpinan Berkelanjutan Dies Natalis ke-22, SBM ITB Tegaskan Komitmen Pendidikan Bisnis Berdampak SBM ITB Luncurkan Thought Leadership: Entrepreneurial Business 600 Orang Lebih Laksanakan Kegiatan Wisuda di UPI, Prof Didi Singgung Ijazah

Bandung · 22 Agu 2025 19:34 WIB

Dedi Mulyadi Dorong Universitas Tidak Lagi Lakukan Penerimaan Mahasiswa Kedokteran Berdasarkan Uang


					Dedi Mulyadi Dorong Universitas Tidak Lagi Lakukan Penerimaan Mahasiswa Kedokteran Berdasarkan Uang Perbesar

Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berharap, penerimaan mahasiswa kedokteran oleh universitas tidak lagi berdasarkan faktor uang semata.

Ini dikatakan Dedi usai menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk Pencegahan Perundungan, Gratifikasi, Korupsi dan Tindak Pidana Kekerasan Seksual di Lingkungan Fasilitas Layanan Kesehatan di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Jumat 22 Agustus 2025.

Dedi mengatakan, rekrutmen mahasiswa kedokteran harus sesuai standar. Yakni kecerdasan akademis dan emosional. Sebab menurutnya, seleksi dokter sama dengan ketika akan masuk ke akademi kepolisian maupun militer.

Baca Juga :  Mumtaz Fest dan West Java Modest Fashion 2024, Momentum Pemprov Jabar Genjot Industri Fesyen

“Jadi sangat berbeda, karena dia itu memiliki peran dan fungsi berhubungan dengan layanan dan nyawa manusia. Keputusan-keputusannya itu menentukan hidup dan matinya manusia. Jadi tidak boleh lagi rekrutmen calon mahasiswa itu hanya didasarkan pada kemampuan ekonomi orang tuanya,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mendorong pemerintah dapat menyekolahkan dokter yang telah mengabdi lama baik di rumah sakit pemerintah, Puskesmas maupun di daerah terpencil menjadi dokter spesialis.

“Kemudian harapan saya, selama menjadi dokter spesialis itu dia tetap bertugas menjalankan waktu sebagai dokter, kan sama dengan kita S2. Kita S2 kan tidak meninggalkan pekerjaan kita. Nah ini yang harus dilakukan agar apa? Agar mata rantai ekonominya tidak terputus,” ucapnya.

Baca Juga :  ICMEM SBM ITB 2025: Leadership dengan Purpose sebagai Kunci Perubahan Berkelanjutan

Sisi lain, Dedi juga mendorong supaya jangan selalu membiasakan menyelesaikan masalah kesehatan dengan obat dan teknologi.

“Tetapi juga cakupan dalam upaya melakukan pencegahan. Maka ilmu kesehatan itu ilmu hulu, bukan ilmu hilir. Karena ilmu hulu, maka berbagai problem penyakit itu harus terjaga sejak dini melalui rekomendasi-rekomendasi kesehatan terhadap masyarakat,” kata dia.

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Jasa Raharja Dan Bpjs Ketenagakerjaan Karawang Perkuat Sinergi Percepatan Jaminan Pelayanan Korban Kecelakaan Lalu Lintas

9 Juni 2026 - 15:41 WIB

Jasa Raharja Kanwil Jawa Barat dan DPD Organda Jawa Barat Bahas Peningkatan Pelayanan Keterjaminan Penumpang Umum

9 Juni 2026 - 07:51 WIB

Jasa Raharja Kanwil Jawa Barat dan Dishub Bandung Barat Laksanakan Uji Petik Angkutan Umum di Terminal Lembang

9 Juni 2026 - 07:48 WIB

Gedung Bersejarah Tempat Soekarno Belajar Kini Jadi Restoran Heritage! 10 Regentstraat Resmi Hadir di Pos Bloc Surabaya

9 Juni 2026 - 06:53 WIB

PT Jasa Raharja Cabang Tasikmalaya dan Tim Pembina Samsat Kota Tasikmalaya Gelar Audiensi dengan OJK dalam Upaya Tingkatkan Kepatuhan PKB dan SWDKLLJ

8 Juni 2026 - 07:47 WIB

PT Jasa Raharja Cabang Tasikmalaya Laksanakan Koordinasi dengan Unit Gakkum Polres Ciamis

8 Juni 2026 - 07:39 WIB

Trending di Berita Daerah