Karena itu, Sayyidina Muhammad bin Ka’b al-Qurdhi (w. 108 H) mengatakan:
الشكر تقوى الله والعمل الصالح
“Syukur adalah bertakwa kepada Allah dan (melakukan) amal saleh” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, juz 11, h. 266).
Bertakwa menjauhi larangan-Nya, mengerjakan perintah-Nya, dan beramal saleh karena-Nya, merupakan bentuk syukur kepada Allah. Dengan kata lain, anugerah Allah berupa seluruh anggota tubuh, dimanfaatkan dan digunakan sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu kebaikan dan tidak berbuat kerusakan.
Maka dari itu, bulan Ramadhan merupakan saat terbaik untuk menghadirkan “syukur” secara nyata, merasai dan melekatkannya dalam kehidupan kita. Karena pada dasarnya, jika penjiwaan syukur telah tertanam, segala hal akan dikerjakan sebagai ungkapan syukur atas nikmat-nikmat-Nya, seperti perintah Allah kepada keluarga Dawud (QS. Saba’: 13):
“bekerjalah, wahai keluarga Dawud, untuk bersyukur.”
Pertanyaannya, siapkah kita memulainya? Wallahu a’lam bish-shawwab…..
Sumber: Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen





























