BANDUNG – Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat Arief Nadjemudin mengakui, angka pengangguran masih terbilang tinggi.
Merujuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini kata Arief, pengangguran di Jabar masih di kisaran angka 1,7 juta orang dari 26,19 juta orang atau sekitar 6,75 persen.
Meski angka tersebut mengalami penurunan sekitar 120 ribu orang, dibandingkan 2023 lalu, angka 1,7 juta orang ini diakuinya masih sangat besar.
Terlebih penyumbang pengangguran terbanyak sambung Arief, dari lulusan SMK. Dimana sejatinya kata dia, para lulusan SMK harusnya lebih cepat mendapatkan pekerjaan, karena mendapat pembekalan teknik selama menempuh pendidikan.
“Terbanyak dari tamatan SMK daripada yang lain, sebesar 12,74 persen,” kata Arief saat dihubungi, Kamis 7 November 2024.
Ini terjadi kata dia, lantaran kebutuhan industri tidak sesuai dengan kompetensi lulusan SMK. Sehingga tidak dapat terserap maksimal.
Maka dari itu, agar terjadi kecocokan antara permintaan dan ketersediaan tenaga kerja, pihaknya bersama Dinas Pendidikan yang mengampu SMK, akan melakukan penyesuaian kurikulum.
Tentunya dengan melibatkan industri, terkait tenaga kerja seperti apa yang mereka butuhkan saat ini.
“Melihat, kompetensi apa yang dibutuhkan dengan industri. Nanti kita kaitkan kurikulum dengan yang ada di SMK,” ucapnya.
Tidak hanya itu, Disnakertrans Jabar juga akan mengoptimalkan program yang telah dibangun, seperti program pelatihan berbasis kompetensi, pelatihan mandiri, juga pekerja migran.
“Juga kita punya balai. Ada dua balai di (milik) provinsi. Juga kita melakukan pembinaan dan pengawasan kepada LPK. Kemudian dengan industri kita buat forum,” kata Arief.



























