“Teknologi harus membuat korban semakin mudah memperoleh pelayanan. Prinsipnya tetap berpusat pada manusia. AI membantu proses pengambilan keputusan, tetapi empati, akuntabilitas, dan kepentingan korban harus tetap menjadi pusat dari setiap inovasi,” kata Awaluddin.
Selain memperkuat layanan JR-Care, Jasa Raharja tengah mengembangkan tiga fokus pemanfaatan AI. Pertama, AI-Based Accident Prediction and Prevention System untuk memetakan wilayah rawan, mengenali pola kecelakaan, dan memberikan rekomendasi intervensi keselamatan.
Kedua, AI Predictive Collection untuk mendukung pemetaan tingkat kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan atau PKB-SWDKLLJ. Ketiga, AI Medical Claim and Fraud Intelligence untuk mendukung validasi klaim medis, mendeteksi anomali, menentukan prioritas pemeriksaan, serta memperkuat tata kelola pelayanan secara objektif dan akuntabel.
Namun, Awaluddin mengingatkan bahwa peningkatan pemanfaatan AI harus diikuti dengan tata kelola yang kuat. Perlindungan data pribadi, keamanan siber, transparansi penggunaan teknologi, mitigasi bias algoritma, serta pengawasan manusia merupakan elemen penting untuk menjaga kepercayaan publik.
“Kecepatan inovasi tidak boleh melampaui kesiapan tata kelolanya. AI harus dikembangkan secara aman, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan karena teknologi ini digunakan untuk mendukung pelayanan yang menyangkut keselamatan dan perlindungan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa persoalan keselamatan transportasi tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi maupun satu moda transportasi. Dibutuhkan integrasi dan kolaborasi antara pemerintah, regulator, operator transportasi, industri asuransi sosial, fasilitas kesehatan, akademisi, dan pengembang teknologi.



























