Saat itu pula api dengki, cemburu, dan dendam membara di hati Qabil. Amarahnya menggiring dia untuk membunuh saudara kandungnya. Itulah pertumpahan darah yang pertama terjadi di muka bumi yang merupakan darah Habil. Ini merupakan kesalahan kedua, setelah kesalahan pertama berupa pembangkangan yang terjadi di surga. Pembunuhan Habil menjadi kejahatan pertama di muka bumi, yang berwujud pertumpahan darah dan hingga kini pun masih terus berlangsung. Bani Adam sentiasa saling menumpahkan darah satu sama lainnya, ada yang membela kebatilan, ada pula yang mempertahankan keadilan, terkadang kedua kelompok sama-sama dalam kebatilan.
Ketika kedua anak Nabi Adam ‘Alaihis Salam diminta untuk berkurban, pada hakikatnya hal itu merupakan ujian bagi keduanya. Karena Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun pada alam semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta’älä tidak butuh pengurbanan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menilai niat hamba-Nya yang tebersit dalam dada:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna). sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran [3]:92).
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan kamu memejamkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Baqarah [2]: 267).
Karena Qabil tidak memiliki niat yang baik dan tulus, di mana dia ingin memberi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan barang yang buruk, akibatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima kurbannya.































