“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran [3]: 142).
Melalui ujian-ujian tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melihat amal kita, khususnya pada niat dalam hati kita: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada paras dan harta kalian, akan tetapi melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim: 33-34/2564).
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hari.” (QS. Ghafir [40]: 19).
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf [50]: 16).
Di antara ujian-ujian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia adalah: melawan hawa nafsu, istiqamah, menjauhi perkara yang haram, baik itu harta ataupun wanita, mengambil hak orang lain, memusuhi orang-orang baik, bersaksi palsu, membunuh atau menghilangkan nyawa, dan juga dosa-dosa lainnya. Menjaga diri dari nafsu kepada harta dan wanita memiliki kedudukan tersendiri.
Persengketaan harta sering berakibat pada permusuhan dan meng- halalkan yang haram. Begitu pula kecintaan manusia terhadap harta timbul sebelum nafsu-nafsu yang lainnya.
Sumber: “Muhammad Sang Yatim” penulis Prof. Dr. Muhammad Sameh Said































