Hikmah kisah ini mengajarkan kita untuk sentiasa bersedekah kepada orang yang membutuhkan dengan sesuatu yang baik dan niat yang tulus, karena jihad melawan hawa nafsu adalah jihad besar. Nafsu sentiasa menggiring untuk mencintai perhiasan dunia, dan perhiasan dunia adalah harta dan anak-anak. Manusia banyak menghabiskan hidupnya untuk mengumpulkan harta, dan ketika sebagian harta tersebut dikeluarkan untuk orang lain, bukanlah merupakan hal mudah baginya. Begitulah, bagaimana bersedekah berlawanan dengan tabiat kikirnya nafsu. Padahal, tatkala manusia meninggalkan dunia, maka seluruh hartanya dia tinggalkan bagi orang lain. Inilah karakter manusia terhadap harta, selalu menginginkan lebih dan lebih lagi tidak pernah ada kata cukup dan puas.
“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr [59]: 9).
Allah Subhanahu wa Ta’ala» tidak melarang hamba-Nya untuk mengumpulkan harta, tetapi Dia pula mengingatkan kita bahwa kebaikan hakiki adalah kebaikan ukhrawi yang dipanen melalui amal baik dan niat tulus di dunia:
“Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. az-Zukhruf [43]:32).
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl [16]: 97).
Jadi, hubungan yang terjalin antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan manusia adalah berdasarkan amal saleh dan niat yang baik Disertai dengan iman yang kuat di dalam hati dan diimplementasikan dengan kehidupan yang baik di dunia. Dengan demikian, dia akan dipenuhi keberkahan di dunia dan mendapat ganjaran serta pahala pada hari akhirat berupa surga. Manusia sentiasa akan melewati berbagai ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala































